Kamis, 04 Juli 2013

A novel: Pulang



Pulang. Saya jatuh cinta pada novel ini.

Sempat ragu awalnya memutuskan untuk beli atau tidak. Seorang wartawan yang saya follow di Twitter sempat merekomendasikan novel ini. Saya percaya selera dia bagus jadi saya mulai mempertimbangkan untuk beli. Beberapa kali saya ke toko buku melihat novel dengan sampul kuning itu. Membolak-balik buku. Membaca sekilas isinya dan akhirnya mengembalikanya ke rak buku.

Kayaknya novelnya ‘berat’.

Sampai akhirnya ketika mengantar Dhani, teman baru yang saya kenal ketika mengikuti pelatihan di Surabaya, ke toko buku di sebuah mall. Dhani si predator buku langsung kalap memilih buku-buku. Cekatan sekali, dia berjalan cepat dari satu rak ke rak lainnya karena beberapa menit lagi toko tutup. Saya hanya melihat-lihat saja. Tidak berencana membeli buku sampai saya melihat Dhani ‘menggondol’ banyak bacaan. Saya tidak ingat persisnya berapa. Mungkin lima buah, bisa juga lebih.

“Banyak banget, Dhan…”

“Iya. Soalnya di Makassar buku-buku ini belum ada. Distribusinya agak lama. Mumpung di Surabaya” Dhani nyengir kemudian berlalu menuju kasir.

Tidak mau kalah. Saya bergegas menuju rak dan mengambil dua buku untuk diboyong: Pulang dan Berjalan di Atas Cahaya. Dua-duanya karya wartawan Indonesia. Saya menyusul Dhani ke kasir untuk membayar.

Kali ini saya menceritakan Pulang doang yaa. Jujur saja, ketertarikan saya pada novel ini karena penulisnya, Leila S. Chudori adalah seorang wartawan. Sejauh ini, saya tidak pernah dikecewakan ketika peliput berita membuat buku. Kedua, novel ini menceritakan sejarah. Tema besar ceritanya tentang kehidupan para eksil politik atau yang dituduh sebagai pendukung PKI dengan latar Indonesia 30 September  1965, Prancis 1968 saat terjadi pergerakan mahsiswa di sana, dan Indonesia Mei 1998.

Sampul depan Pulang
Meskipun fiksi, tapi novel ini berdasarkan kisah nyata. Saya percaya penulis melakukan riset luar biasa. Terbukti dengan banyaknya referensi di lembaran akhir. Novel pertama yang menyertakan referensi yang pernah saya baca. Tidak cukup itu, Leila juga banyak mewawancarai orang-orang yang terlibat langsung dengan krisis politik Indonesia pada September 1965 - Mei 1998. Dia mengejar narasumber sampai ke Prancis. Hasilnya….. K.E.R.E.N!

Di awal, sempat mentok membacanya. Mungkin karena kepala saya belum beradaptasi dengan karya sastra ini. Tetapi setelah ketemu iramanya, saya tidak bisa berhenti. Butuh tenaga ekstra memang membacanya: sudut pandang yang berubah-ubah, dimulai dengan Hananto, kemudian Dimas, lalu Lintang, Vivienne, Alam, Bima, kadang dari sudut pandang orang ketiga yang segala tahu, serta alur cerita yang meloncat maju-mundur-maju, tetapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk sesegera mengkahatamkan Pulang, karena Leila menuturkannya dengan sangat apik.

Dimas Suryo dan putrinya, Lintang Utara adalah tokoh utama di novel ini.

Meskipun lama tinggal di Prancis, Dimas selalu ingin kembali ke Indonesia. Ketika itu, dia diutus untuk menghadiri konferensi jurnalis di luar negeri. Tapi dia tak pernah bisa kembali karena krisis politik yang melanda negeri. Dia ingin pulang ke tanah airnya. Tapi tidak bisa karena pemerintah Indonesia menolaknya. Dimas dituduh “orang kiri” atau simpatisan PKI.

Lintang adalah putri semata wayang Dimas dengan Vivienne Devaraux, seorang wanita Prancis dengan bola mata hijau biru yang membuat Dimas terkesima. Lintang lahir dan tumbuh dewasa di Paris, kota impian banyak orang.
Ayahnya berasal dari Indonesia. Bagi Lintang, Indonesia seperti nama negeri dalam mitos yang sering diceritakan orang tuanya, sahabat ayahnya atau dari buku dan dokumenter. Dia tidak "mengenal" Indonesia. Bahkan dia tidak pernah terpikir untuk menjejakkan kaki di tanah kelahirannya ayahnya. Meskipun begitu, darahnya berdesir ketika mendengar suara gamelan atau ketika ayahnya berkisah tentang cerita perwayangan.

Ada tokoh wayang yang saya kagumi dari tulisan ini. Sosok Ekalaya. Tidak seterkenal tokoh Arjuna, Bima, Srikandi atau Drupadi memang. Dimas Suryo mengaguminya. Saya juga jatuh cinta pada Ekalaya. Nanti saya tulis khusus tentang Ekalaya dalam Pulang.

Berbicara karakter, Leila sepertinya sangat memperhatikan watak setiap tokoh dalam ceritanya. Setiap tokoh mempunyai karakter yang kuat dan unik. Membekas. Saya menebak-nebak siapa tokoh ini dalam kehidupan nyata di sekeliling saya. Belakangan saya tahu, membangun karakter adalah bagian favorit Leila dalam menuis fiksi. Itu diutarakannya ketika menjadi narasumber workshop menulis fiksi di mana saya menjadi pesertanya. Alasan saya ikut workshop bukan untuk memperoleh ilmu menulis fiksi sebetulnya, tetapi karena saya penasaran dengan sosok si penulis, serta berharap novel saya ditanda tangani :p
Berharap tahun depan nama saya yang "mejeng" di kartu nama media itu :p
 Banyak hal baru yang saya dapatkan, misalnya kisah Mahabharata yang asing bagi saya sebelum membaca novel ini. Juga istilah-istilah pada masa Orba seperti bersih diri dan bersih lingkungan. Selain itu, ada yang “mengganggu” pikiran saya setelah membaca Pulang. Meskipun fiksi, saya merasa seperti membaca buku sejarah dengan cara yang menarik, karena memang karya fiksi ini dibuat berdasarkan peristiwa sejarah dari orang-orang yang sengaja diluputkan luput dari materi sejarah buku ajar sekolah.

Si penulis melakukan riset panjang. Dia membaca literatur, mengobrol dengan sejarawan, mewawancarai orang-orang yang terlibat, mengejar narasumber sama ke luar negeri demi Pulang. Seperti saya ulas sebelumnya, ini novel pertama yang saya baca yang menyertakan referensi! Ini fiksi apa skripsi??? Hehehee.

Pokoknya keren! Saya menyesali satu hal setelah membaca novel ini: kenapa dulu sempat pikir-pikir untuk beli.

Rabu, 23 Januari 2013

Reportase Investigasi

      Saya pernah bikin tulisan tentang reportase investigasi buat materi skripsi. Sayangnya ga kepake, hiks... Tapi kalau dibuang sayang. Jadinya tulisan ini sempat "mendekam" di laptop sampai akhirnya dirilis di blog.
        Kalau baca berita laporan investigasi karya wartawan sendiri tuh seneng deh. Bangga punya wartawan yang ulet, gigih, rajin dan berani ngambil resiko tentunya. Meskipun agak susah nemuin laporan investigasi di media massa sekarang ini, tapi ada beberapa media yang masih "berbaik hati" menghadirkan karya indah ini. Salah satunya majalah Tempo, my fav ones! :-D
      Sebagai pembuka, saya pakai prolognya acara Mata Najwa episode selidik jurnalis biar kelihatan keren, ahahahaa..... So, cekidot!


Menjadi wartawan adalah sebuah kekuasaan. Wartawan bisa menjadi seorang tiran atau pembuka tirai kebenaran. Ada yang menderita dan gila oleh kebohongan wartawan, ada pula investigasi wartawan menjatuhkan kewibawaan  kekuasaan. Watergate, buloggate, skandal Bre-x, penjara Artalita contoh investigasi yang memberi arti. Jurnalisme tanpa investigasi seperti kebudayaan tanpa tradisi.(1)
 
Cepatnya arus informasi membuat media massa semakin kompetitif. Media massa harus bertarung dengan sumber-sumber informasi non-tradisional seperti stasiun televisi khusus berita, program-program breaking news di televisi dan radio dan situs berita online. Belum lagi kemunculan jurnalis warga (citizen journalist) yang menulis berita melalui jejaring sosial, milis, situs dan blog pribadi.
Proses keusangan informasi berlangsung sangat cepat akibat derasnya arus informasi dari berbagai media massa maupun individu yang menjadi jurnalis warga.
Kompetisi tersebut berjalan ketat sehingga mendorong media massa bekerja dengan naluri aktual atau kesegaran yang tinggi. Akibatnya adalah tidak adanya kemendalaman laporan yang disuguhkan. Berita jenis in-depth reporting dan investigative reporting menjadi langka dalam pemberitaan media yang menekankan aktualitas tinggi.
Wartawan lapangan dituntut untuk segera mencari, mengumpulkan dan mengirimkan informasi tanpa memiliki cukup waktu untuk memahami kondisi-kondisi yang mungkin dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana sebuah peristiwa terjadi.(2) Pencari berita hanya menyajikan apa yang ada dipermukaan karena ruang gerak yang terbatas dan tuntutan aktualitas.
Situs berita online mengklaim bahwa semua peristiwa penting yang terjadi bisa dibaca di situs mereka sebagai yang tercepat dalam mengabarkan peristiwa daripada media cetak dan elektronik.
Beberapa media online mengizinkan wartawan lapangan tidak lagi menulis berita di kantor. Mereka hanya perlu menghubungi para redaktur kemudian memceritakan tentang apa yang terjadi. Setelah itu berita ditulis oleh tim penulis tersendiri. Imbasnya faktor keakuratan sering kali terabaikan, apalagi kemendalaman.(3) Pola penyajian berita semacam ini menyebabkan masyarakat terbiasa dengan berita langsung (straight news) yang berisi informasi-informasi ringkas dan langsung ke tujuan.
Berita ringkas yang disampaikan tidak selalu memenuhi unsur 5W+1H (what, when, where, who, why and how). Cukup memiliki unsur ‘apa’ dan ‘kapan’, atau minimal ada fakta, berita tersebut sudah layak diterbitkan. Akibat tuntutan kesegaran dan ketatnya kompetisi, banyak media yang memutuskan untuk tidak lagi memberi ruang bagi in-depth reporting dan investigative reporting.(4)
Wina Armada mengemukakan sebab-sebab perusahaan media atau wartawan enggan melakukan peliputan investigasi karena adanya penilaian bahwa liputan investigatif membutuhkan biaya tinggi dan menghabiskan banyak waktu. Selain itu, hasil akhir yang tidak jelas juga menjadi alasan insan pers malas melakukan kerja investigasi.
Setiap investigasi memang mengandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Hasil yang negatif tersebut juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan. Belum lagi resiko besar yang harus dihadapi. Maka tidak heran jika perusahaan media lebih senang menampilkan berita ringkas daripada memproduksi program investigasi karena menghabiskan banyak biaya, waktu dan energi.(5)
Hanya beberapa media massa yang memberi kesempatan bagi para jurnalisnya untuk membuat laporan komprehensif. Di televisi, laporan panjang  tersebut dikemas dalam program khusus berdurasi 30 menit seperti Metro Realitas (Metro TV) dan Sigi (SCTV). Namun, ada juga media yang menempelkannya secara berseri dalam program berita reguler sebagai laporan khusus seperti di Trans 7 dan RCTI.
Program investigasi memberikan informasi yang lebih lengkap dan mendalam mengenai suatu isu besar yang tidak cukup dibahas dalam dua atau tiga menit. Al Hester menyebutkan perlunya liputan investigasi adalah desakan untuk ‘suatu perubahan harus dilakukan’ dan ‘suatu perubahan harus terjadi. Oleh karena itu, menurut Seno Gumira Ajidarma beban ideologis liputan investigasi lebih berat dari liputan mendalam (in-depth reporting) yang mengembangkan unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) dari rumus 5W+1H. Acuan lain yang membedakan antara liputan investigasi dengan liputan mendalam yaitu liputan investigasi menyangkut kepentingan umum dan terdapat indikasi perbuatan yang salah.(6)
Investigative berasal dari kata Latin vestigum yang berarti jejak kaki. Sedangkan reporting berasal dari bahasa Latin reportare, artinya membawa pulang sesuatu dari tempat tempat lain. Jadi, Investigative reporting atau laporan investigasi secara etimologi berarti membawa pulang jejak kaki dari tempat lain. Dari pengertian tersebut, Paul N Williams menganalogikan wartawan seperti pemburu predator. Wartawan mengikuti jejak langkah si predator untuk mengetahui keberadaan buruannya.(7) 
Wartawan Newsday Robert Greene menyebutkan liputan investigasi sebagai produk jurnalistik menyangkut kepentingan publik, namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: 
  1. liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindaklanjuti oleh media 
  2. subyek investigasi merupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan 
  3. ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik.(8)
Ada perbedaan besar antara membuat liputan investigasi dengan melaporkan hasil investigasi yang dilakukan penyidik seperti KPK, polisi atau jaksa. Melakukan investigasi mengenai kasus korupsi yang menyeret beberapa nama politisi berbeda dengan hanya menyiarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh penyidik yang berwenang. Ada liputan yang sebenarnya hanya memberitakan hasil investigasi yang dilakukan aparat hukum, kemudian digadang-gadang sebagai produk invetigasi hanya karena memegang bocoran  Berita Acara Pemeriksaan (BAP) beberapa tersangka atau memperoleh fotokopi dokumen dari penyidik, lalu laporan tersebut dilaim sebagai produk investigasi.
Padahal sebenarnya, wartawannya hanya melaporkan ulang apa yang sudah ditemukan oleh penyidik. Temuan yang wartawan sajikan adalah temuan aparat, bukan upaya investigasinya sendiri, yang jika dilakukan bisa saja menguatkan fakta versi penyidik, atau justru membantahnya.
Meskipun demikian, wartawan yang menyelidiki ulang hasil temuan penyidik bukan berarti tidak bisa menghasilkan produk invetigasi. Bisa jadi, fakta yang didapatkan wartawan dapat lebih melengkapi, mempertajam atau membantah temuan-temuan aparat yang berwenang.(9)
Beberapa karya jurnalis Indonesia yang dilabeli investigasi menimbulkan perdebatan tentang layak atau tidaknya predikat tersebut disandang. Hanya sedikit yang disepakati bersama sebagai karya investigasi. Bondan Winarno menulis buku yang memuat hasil penyelidikannya mengenai skandal emas Bre-X di Busang Kalimantan Timur. Judul bukunya Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Bondan mengonstruksi fakta-fakta yang didapatnya melalui investigasi ke Kalimantan, Filipina dan Kanada untuk menelusuri seluk-beluk kasus penipuan pertambangan emas terbesar di Indonesia yang melibatkan perusahaan asal Kanada Bre-X. Karya tersebut disepakati sebagai produk liputan investigasi.(10)
Tayangan berita berdurasi tiga menit di televisi bisa jadi merupakan liputan investigasi. Karya investigasi bukan dinilai dari panjangnya laporan yang menghabiskan berlembar-lembar halaman di koran atau memerlukan durasi yang lama untuk tayangan televisi. Menurut Dandhy Dwi Laksono, hal tersebut terjadi karena adanya kerancuan mengenai dua hal: 
  • Investigasi sebagai produk atau karya jurnalistik
  • Investigasi sebagai teknik yang digunakan dalam meliput berita(11)
Wartawan yang menelusuri tentang kasus bakso tikus lalu merekam produksi bakso tersebut dengan kamera tersembunyi dinilai sebagai karya investigasi, padahal dia hanya menggunakan teknik investigasi. Memang wartawan tersebut melakukan salah satu teknik investigasi, akan tetapi laporannya belum tentu dinilai sebagai produk investigasi. Produk karya investigasi pasti menggunakan teknik investigasi dalam proses peliputannya. Namun, teknik investigasi belum tentu menghasilkan produk investigasi.
Beberapa hal seperti perlindungan narasumber, narasumber anonim, penyamaran, penggunaan kamera tersembunyi, hingga reka ulang kejadian (proses rekonstruksi) merupakan teknik-teknik investigasi yang bisa dilakukan wartawan. Kerja investigasi tersebut boleh dilakukan asalkan sesuai dengan kode etik jurnalistik. Ada dua kode etik yang menjadi pedoman wartawan Indonesia yaitu Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang dikeluarkan oleh Dewan Pers dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran yang dibuat oleh Komisi Penyaiaran Indonesia (KPI). Meskipun setipa organisasi wartawan memiliki kode etik sendiri, namun semuanya mengacu pada dua standar kode etik yang dibuat Dewan Pers da KPI.(12)
Ada beberapa elemen yang harus dipenuhi agar disebut sebagai produk investigasi:
1. Mengungkap kejahatan yang menyangkut kepentingan publik atau tindakan yang merugikan orang lain 
2. Kasus yang dikupas berskala luas dan sistematis (berkaitan atau mempunyai benang merah)
3. Menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan memetakan persoalannya dengan gambling
4. Mendudukkan aktor-aktor yang tetrlibat seperti pelaku kejahatan, kambing hitam, dan korban yang terlibat disertai bukti-bukti yang kuat
5. Publik dapat memehami kompleksitas masalah yang diangkat dan membuat keputusan berdasarkan laporan tersebut.(13)
Jika sebuah laporan panjang memiliki semua elemen seperti yang dijabarkan, berarti laporan tersebut adalah produk investigasi dan menggunakan teknik investigasi. Akan tetapi, jika laporanya tidak memenuhi kelima elemen, laporan tersebut bisa dikategorikan sebagai laporan mendalam (in-depth reporting).

Referensi

(1) Prolog Mata Najwa episode Selidik Jurnalis (Rabu, 25 Januari 2012)
(2) Ade Armando, et.al., Media dan Integrasi Sosial : Jembatan antar Umat Beragama (Jakarta : CSRC UIN Syarif Hidayatullah, 2011) h. 15-16
(3) Ibid., h. 16
(4) Tim Penyusun Adiwarta Sampoerna, Karya Terbaik Anugerah Adiwarta Sampoerna 2006-2010: Jejak Rekam Lima Tahun Karya Jurnalistik Terbaik Indonesia. (Jakarta : PT Grafindo Media Pratama, 2011), h. 18
(5) Septiawan Santana, Jurnalisme Investigasi (Jakarta: Yayasan Obor Indoensia, 2004), h.12
(6) Tim Penyusun Adiwarta Sampoerna, Op.cit., h. 18
(7) Septiawan Santana, Op.cit., h. 135
(8) Andreas Harsono, “Apa Itu Investigative Reporting,” artikel diakses pada 19 Maret 2012 pukul 19.30 WIB dari http://www.andreasharsono.net/1999/02/apa-itu-investigative-reporting.html
(9) Dandhy Dwi Laksono, Jurnalisme Investigasi (Bandung : Kaifa, 2010), h. 26
(10) Andreas Harsono, Loc.Cit.,
(11) Dwi Laksono, Op.cit., (Bandung : Kaifa, 2010) h. 21
(12) Ibid., h. 353
(13) Ibid., h. 23

Jumat, 18 Januari 2013

Maaf

I wanna text you
but...
I'm afraid you're gonna ignore me.

"Mawar, maafin Marwan ya"
If only that easy

Ini situasi cukup serius
Tidak seperti iklan di televisi

Ya ampun,
Tiba-tiba saja saya sangat takut menghadapimu
Merasa seperti anak ayam lucu
Berpapasan dengan induk musang kelaparan

Kamu menunggu
Menatap saya dengan bersungguh
Bukan untuk mengajak bermain
Tapi menjadikan saya santapan siang

Ya ampun,
Liar sekali imajinasi ini

Kita sama tahu
Kamu tidak seseram itu

Hmm,
Tapi juga sedang tidak senormal biasanya

Kamu berhak marah
Sepenuhnya saya salah
I admit it

Tapi, kalau boleh meminta
Kamu jangan jadi induk musang
Jadi kambing galak saja bagaimana?

Kambing galak terdengar lebih 'ramah'
Daripada induk musang kelaparan

Karena kambing makan rumput
Bukan daging ayam
Apalagi bayi ayam lucu
(^_^);

Oke, oke, mari kita lebih serius

Sebenarnya,
Ini bukan tentang anak ayam ketemu induk musang
Ini tentang itikad saya menemui kamu

Tolong pertimbangkan juga upaya saya
You know I'm trying hard to do
To fight the fear
To meet you
To stare at your eyes
To say sorry

Pertimbangkan ya
Jika berkenan
Semoga berkenan

Terima kasih

Terbaik :D


Apa jadinya jika aku memilih berkonfrontasi dengan-Mu?

Sejujurnya, aku mengakui Kau memang yang terhebat urusan menulis skenario. Bodoh, saat aku meragukan, mempertanyakan, apalagi protes ketika 'menurutku' cara-Mu menyusahkan aku.

... Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui (Al-baqarah : 216)

Maaf ya, karena sering sok tahu dan menyalahkan keputusan-Mu berdasarkan keterbatasanku menelisik. Bahkan, kadang aku merasa punya jalan cerita lebih hebat, yang akan memuaskan semua pihak.

Hasil buruk yang kuterima tak terbantahkan : aku tidak bisa memuaskan keinginan setiap kepala.

Ternyata, alur-Mu lebih baik. Jauh lebih baik daripada rencana dan ambisiku. Ujian-ujian yang bikin nelangsa itu adalah proses yang menghebatkanku. Kau menaikkan levelku setingkat lebih baik jika aku bisa melaluinya.

Ah, aku ingat tiap tahun aku 'terpaksa' mengikuti ujian sekolah agar naik kelas. Aku juga didesak untuk melakukan hal membosankan : belajar!
Tujuannya agar nilai rapotku bagus, nilaiku tidak di bawah rata-rata, atau setidaknya aku naik kelas.

Meskipun memaki, toh akhirnya ada hal baru yang aku dapat. Meskipun mengumpat, toh aku tidak pernah tertinggal kelas. Banyak hal baik yang tanpa sadar menghampiriku malah kuhujat. Aku mengeluhkan keadaan, yang sebenarnya aku sedang mengeluhkan kebebalan mentalku.

Apa jadinya jika aku memilih tidak belajar dan mangkir dari ujian? Kurasa mereka yang kucintai dan mencintaiku akan kecewa. Dan dapat dipastikan akulah yang merasa paling ingin mati membawa semua sesal dan malu.

Ini untuk-Mu, Tuhan. Terimakasih ya, untuk selalu baik meski aku seringkali membandel, membangkang, nakal dan membuat kesal.

Apa jadinya jika aku memilih berkonfrontasi dengan-Mu?
Dipastikan aku adalah makhluk yang paling tidak tahu diri dan merugi, karena... tak ada satupun nikmat-Mu yang cukup masuk akal untuk aku dustakan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-rahman : 13)
 
                                                                     ***Fabiayyi aalaa- i robikumaa tukadzibaan. Kalimat yang artinya "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" tidak hanya ada di ayat 13 dalam surat Ar-rahman.
Penasaran, saya menghitung seberapa banyak. Hasilnya pertanyaan tersebut diulang sebanyak 31 kali!

Yup, 31 kali dari keseluruhan ayat yang berjumlah 78.

Apa jadinya jika aku memilih berkonfrontasi dengan-Mu, seteleh limpahan nikmat yang kuberoleh?

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan,“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim : 7)

Lirik Perahu Kertas

Perahu Kertas...
Lupa pencarian apa yang saya lakukan di google sampai nyasar di postingan yang bahas lirik Perahu Kertas, yang jadi original soundtrack buat film dengan judul yang sama. Film ini diangkat dari novel laris karya Dewi 'Dee' Lestari judulnya sama juga : Perahu Kertas :D

Belum baca sih novelnya. Tapi sering liat pas jalan-jalan ke toko buku, ada di jajaran best seller. Sore tadi download versi e-booknya dan gratisan :-p
Baru dicicipi 3 lembar karna harus nganter juragan kondangan. Menarik sih, tapi karna belum baca jadi saya ga bahas novelnya.

Ngomong-ngomongnya soal soundtracknya, saya baru dengerin yang judul Perahu Kertas.
Liriknya... happy, lucu tapi romantis.

Ya, cukup mengobati rasa kangen sama lagu berlirik puitis, di antara banyaknya lagu pribumi berbahasa tutur nonformal yang dibawakan sambil menari-nari, biasanya ada bahasa Inggrisnya diselipin dikit, dan divisualkan dengan mimik unyu-unyu, hehe... (ada yang ngambek kah saya tulis begitu)

Sekilas membaca lirik, saya tertarik berlayar dengan kata "Perahu Kertas" menjelajahi dunia MP3 dan terdampar di 4shared. Log ini, download, tunggu selesai... Tarra!

Liriknya manis dan dibawain dengan manis pula oleh Maudy Ayunda (bener ga ya tulisannya) dan ketemu aransemen yang indah, menurut saya. Menurut saya lho ya. Intinya : Like this yo!

Perahu Kertas by Maudy Ayunda
Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi, cinta-cinta, cita-cita
Yang lama kupendam sendiri
Berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku, cintaku padamu

Bahagia denger lagunya. Berasa lagi jatuh cinta padahal enggak, ahahaa
Setelah puas dengerin lagunya, misi berikutnya adalah mengkhatamkan novelnya...

Skripsi dahulukan dong! Lebih penting itu!

Iya, diselang-seling. Baca novel diselingi ngerjain skrispsi maksudnya. Yang namanya selingan yaa dikit aja porsinya, hihihi...
 


Jumat, 13 Juli 2012

Manusianya dan ambisinya

Pernah saya mengupayakan sesuatu untuk memperoleh hasil terbaik. Lalu, kamu memvonis saya ambisius.

Apa jadinya manusia tanpa ambisi? Mungkin seperti robot berbalut daging dan darah yang butuh tidur, makan, dan buang air.

Kamu perbaiki kalimatmu. Menambahkan kata "terlalu" sebelum kata ambisius. Vonis yang meluluh-lamtakkan semua mimpi, yang kamu nilai sebagai proyek diluar nalar.

Ingin rasanya mengajukan pembelaan bahwa yang saya lakukan belum seberapa. Bukan apa-apa.  Tak ada apa-apanya dibanding mereka yang telah lama mencapai garis finish, dan sedang bersiap untuk lintasan baru.

Saya berjalan, bukan berlali. Meski sesekali sambil menari, agar hilang penat. Kamu bilang saya terlalu menyiksa diri. Yang saya lakukan belum seberapa. Bukan apa-apa. Tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Mereka yang kamu bilang manusia tidak bersyukur, karena tidak menikmati hidup.
Tidak seperti kamu yang sesering mungkin berhenti di pinggiran sambil mengopi, lalu mengajak orang lain untuk berlama-lama bicara remeh temeh tentang hidup.

Saya menyukai mereka!

Kamu -yang paling tahu tentang segalanya sejagat raya- bilang kalau saya mulai dungu. Kali ini saya terayu. Keluar lintasan. Sedetik kemudian mengutuki diri atas keputusan yang tidak saya maui.

Dan saya di sana. Bersama kamu. Menyaksikan mereka berlari, yang terus kamu komentari melakukan hal yang tidak berarti. Lari, lari, untuk hal yang tidak pasti.

Memangnya, kamu tidak jenuh dengan berlama-lama berdiam diri? Memangnya kamu tidak penasaran akan sesuatu yang menunggu di ujung lintasan? Memangnya kamu tidak rindu rasanya berlari? Memangnya kamu sudah lupa caranya bermimpi? Memangnya kamu....

"Orang yang tidak melalukan apa-apa, tidak berhak mendapatkan apa-apa! Diam, dan jangan bertanya lagi!"

Kamis, 07 Juni 2012

Metro Realitas

Dalam sebuah negara yang menganut sistem demokrasi seperti Indonesia, kehadiran media massa sebagai kran informasi publik menjadi sangat penting. Oleh karena itu, setiap stasiun televisi memproduksi program berita.

Namun, di antara banyaknya program berita tersebut, hanya sedikit perusahaan media yang menawarkan program investigasi. Perusahaan media lebih senang menampilkan berita ringkas daripada memproduksi program investigasi karena menghabiskan banyak biaya, waktu dan energi. Padahal, program investigasi memberikan informasi yang lebih lengkap dan mendalam mengenai suatu isu besar yang tidak cukup dibahas dalam dua atau tiga menit.

Di tengah lesunya program-program investigasi di televisi, Metro TV mempunyai satu tayangan investigasi bernama Metro Realitas. Program ini ada sejak MetroTV beridiri tahun 2000 silam. Metro Realitas menyapa pemirsa setiap Senin dan Rabu pukul 23.05 WIB.

Metro Realitas
Berbeda dengan berita ringkas (straight news) yang hanya menayangkan berita sekilas, program ini menyajikan laporan mendalam untuk membongkar kasus-kasus yang menyangkut kepentingan publik. Kriteria berita yang ditayangkan adalah kejahatan kerah putih, korupsi, kejahatan kemanusiaan, pelanggaran HAM berat, kekerasan terhadap agama atau kepercayaan, kerusakan lingkungan dan ketidakadilan.

Pada tahun 2011, program Metro Realitas edisi Berebut Saham Newmont meraih penghargaan sebagai kategori Program Investigasi Terbaik dalam ajang Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) 2011 dan Anugrah Adiwarta 2011 untuk edisi Perang Mafia Tambang sebagai Liputan Investigatif Terbaik untuk kategori TV Nasional.

***
Ini deskripsi singkat program Metro Realitas di skripsi gue soalnya penelitiannya emang tentang investigative reporting. Ternyata setelah gue dalemin tentang program-program investigasi di tv Indonesia itu kuraaaang banget.

Ada sih yang ngasih embel-embel investigasi di nama programnya tapi acara gosip kaya silet (masih ada ga sih programnya setelah Veni Rose pindah?), insert investigasi, kasak-kusuk investigasi de el el. Acara-acara yang kepo banget soal kehidupan selebritis dan ternayata laris manis dipasaran.

Ga heran kalau ada stasiun TV yang menayangkan acara gosip 3 kali sehari kaya makan obat : pagi, siang malem... bahkan lebih! Program gosip emang jadi idola makanya ditayangkan di jam-jam banyak penonton. Nasibnya berbanding jungkir balik sama program-program investigasi 'beneran'. Sengaja ditaro tengah malem pas orang lagi enak-enaknya mimpi dan ga pake promo (iklan programnya).

Selama tahun 2012 pas gue terpaksa mutusin buat mendalami investigative reporting ga pernah tuh liat iklan Metro Realitas-nya Metro TV atau SIGI yang punya SCTV. Alasannya bisa jadi gara-gara pihak perusahaan media sayang meluangkan waktu 30 detik aja buat program yang 'dianggap' ga komersil. Atau, bisa jadi kalau dibikin promo acaranya terus dikasih tahu episoden nanti tayang tentang kasus apa eh tau-tau diultimatum ga boleh tayang sama orang yang punya kekuasaan ( misalnya owner, teman tapi mesranya owner, pihak sponsor, atau orang yang punya power di nusantara ini). Who knows?

Awalnya gue emang terpaksa baca-baca tentang jurnalisme investigasi gara-gara skripsi. Tapi akhirnya jadi jatuh cinta sama bahasan ini. Waktu baca tentang cerita para jurnalis yang meliput dengan teknik ini, gue ikutan deg-degan kaya lagi nonton film action. Ada yang maen petak umpet sama preman-preman bayaran, ada yang kejar-kejaran di speed boat dan ada yang dicari-cari militer. Wuiiiiiih!

Pas wawancara sama produsernya Metro Realitas, trus dia nawarin gue magang. Mau banget lah! I won't miss the chance. Saking niatnya magang, pas wawancara itu gue udah bawa CV, surat pengantar magang dari kampus n persyaratan magang lainnya. Jaga-jaga kali ditawarin magang, kalaupun ga... gue mo apply lamaran magang :D

Sebulan doang magang dan itu jadi ajang pembuktian teori-teori yang gue pelajarin di kelas sama hal yang gue dapet di lapangan. Lucky me, gue ngerasa beruntung banget tempat belajar itu di Metro Realitas. Isu-isu 'sensitif', ketemu orang-orang penting, dan liputan sambil deg-degan (padahal yang ngeliput reporternya n gue cuma nyimak). Gue juga jadi yakin kalau berita yang kita lihat di tv bukan realitas apa adanya. Ada subjektivitas reporternya, ada proses editing, sudut pandang yang diambil, pemilihan kata, mutusin siapa yang jadi narasumber, ada intervensi bukan cuma dari internal media tapi juga mereka yang punya pengaruh (jabatan, uang, atau akses). Berita bukan mirror of reality.

Tapi di sana juga gue melihat masih ada jurnalis-jurnalis idealis yang konsisten memperjuangkan kebenaran, menyuarakan hak-hak mereka yang ga punya akses 'bersuara', ditegur sama 'orang yang berpengaruh' karena beritanya terlalu 'vulgar' menelanjangi praktek-praktek kotor yang merugikan negara.

Makasih Metro Realitas :D