Tampilkan postingan dengan label wartawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wartawan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Pilihan Hidup

Cihuy! Akhirnya obsesi jadi jurnalis kesampean \^o^/
Rasanya seneng banget bangeeeet! Jadi pekerja media itu teenage dream yang terwujud.

Cita-cita kok cuma jadi jurnalis?
Iya sih cuma jadi kuli tinta doang... tapi bodo amat! Selera orang kan beda-beda. Termasuk soal profesi. Menjadi pekerja pers bagi saya adalah pilihan hidup #eaaa

Saya memilih kuliah di jurnalistik juga karena tujuannya mau jadi wartawan. Bukan asal kuliah. Bukan karena paksaan orang tua. Bukan karena ikut-ikutan orang. Bukan karena peluang kerjanya semakin luas di era informasi ini. Kata hati yang menuntun. Ih sumpah kata-katanya jijay banget, haghagcuih :p

Alhamdulillah saya dilahirkan di keluarga yang demokratis. Ibu saya memberikan kebebasan kepada anak-anak perempuannya memilih jurusan yang kami minati untuk kuliah. Pada saat itu, jurusan saya dan dua saudara perempuan saya memang nggak lazim di lingkungan rumah.

Kakak saya, Teh Ian, mengambil jurusan peternakan. Saya kuliah di jurnalistik. Sedangkan Icha, si bungsu memilih pendidikan teknik mesin. FYI, di kelasnya Si Icha, perempuannya cuma dia doang. Bagaikan perawan di sarang penyamun kali ya? hehe

Sebenernya ibu saya berharap salah satu anak perempuannya ada yang bergelut di bidang medis. Jadi dokter, perawat atau bidan gitu, seperti pilihan kebanyakan anak perempuan di lingkungan rumah, haha. Tapi kami semua takut darah, jarum suntik dan pisau bedah. (>.<)

Beberapa orang bertanya kenapa saya kuliah di jurnalistik, "emang peluang kerjanya bagus ya?"

I just wanna be a journalist. It's about passion. Sok iye bangetlah? haha, tapi emang iya begitu sih kenyataannya :p

Waktu saya kelas 3 SMA, beberapa temen yang memilih jurusan di universitas berdasarkan peluang kerja. Angkatan saya banyak yang mengambil IT, ekonomi, sastra Inggris, dan pendidikan. Yang perempuan banyak banget yang memilih jadi bidan. Landasannya ya ketersediaan lowongan pekerjaan itu: banyak dibutuhkan.

Kata salah satu temen kelas saya yang berniat kuliah di kebidanan sih biar bisa buka praktek di rumah. Bukan karena memang minatnya di sana. Tapi satu doang lho yang bilang gitu, hehee. Pasti banyak yang pengen jadi bidan karena panggilan jiwa, bukan pertimbangan materi, ya kan? *daripada ditimpukin bidan*

Saya memang punya kecenderungan bersikap datar menanggapi sesuatu. Cuma bergairah untuk hal-hal yang saya minati. Waktu SMA, saya pilih kasih sama pelajaran. Pas mau naik kelas XI, nilai saya nggak memenuhi kriteria kelas IPA. Nilai fisika, matematika, dan kimia mengerikaaaaan. Bikin sedih deh pokoknya.

Saya pun masuk IPS. Saat itu, derajat IPS seolah-olah lebih rendah dari IPA. Kalah gengsi. Biasalah, darah muda darahnya para remaja. Saya pun sempet terpengaruh soal strata kelas. Karena stigma itu, saya hampir mau memaksakan masuk IPA--yang waktu itu saya anggap lebih keren, bermartabat dan bermasa depan cerah. Seolah-olah bakalan cemerlang gitu kehidupan di kemudian hari. 2014 ini apakah anggapan itu masih berlaku saat ini? I don't know. Waktu tahun 2005-2008 sih masih berlaku, at least at my school :D

Udah niat mau pindah. Mau ngobrol sama guru BP. Tapi ketemu sama trio kwek-kwek yang bikin nestapa selama 3 tahun? Si fisika, kimia sama matematika yang bikin mencret-mencret itu?

Bakalan keseret-seret. Bakalan jadi tukang nyontek. Bakalan menggantungkan nilai-nilai rapot saya pada kemurahan teman yang rela kasih contekan.

Waktu itu, ibu agak mendorong saya melobi guru biar bisa pindah kelas. Beberapa teman yang tadinya di IPS berhasil loncat ke IPA. Teteh saya malah bilang keluarga kita keluarga IPA. Masuk jurusan sosial itu ibarat merusak garis keturunan, hehee. Woooo lebay :p

Tapi kan saya yang belajar. Saya yang bakal mengabiskan seharian duduk di kelas mengikuti pelajaran. Saya yang bakal menderita bikin PR yang angka-angkanya lebih banyak dari huruf. Saya yang akan menjalani itu semua. Betapa mengerikan!

Saya meyakinkan diri kalau di masa depan mau jadi pekerja media. Masuk jurnalistik itu nggak harus dari IPA. Kepala saya lebih waras dari darah muda darahnya para remaja. Saya pun pasrah terdampar di XI IPS 3. Tapi sial banget di kelas IPS masih ketemu matematika. Satu lagi yang ngeselin: akuntansi!
Otak saya emang nggak support buat angka-angka, kecuali ngitung duit beneran. Bukan duit imajiner kaya di akuntansi :p

Saya berkomitmen bakalan tanggung jawab dengan pilihan saya. Implementasinya, saya enggak bakal mencontek, juga akan membuat pekerjaan rumah DI RUMAH, untuk bidang studi sosial. Matematika sama akuntansi mah pengecualian, hahaha. Dua pelajaran itu nggak seharusnya di IPS :p *tendangin kalkulator*

Awalnya jadi golongan murid IPS agak berat. Pas upacara agak gimana gitu ada di barisan dengan makhluk-makhluk itu. Agak minder, hahaa. Alhamdulillah perasaan yang tidak pada tempatnya itu nggak berlangsung lama. Nggak sampai sebulan. I'm on the right track!

Sewaktu kuliah, kecenderungan pilih kasih itu masih berlaku. Kalau mata kuliah yang kurang saya suka (metlit, statistik, ilmu alamiah dasar adalah beberapa contohnya), saya ikuti dengan standar asal lulus. Biarin pas-pasan juga.

Tapi kalau mata kuliah jurnalistik saya belajarnya lebih serius. Liat-liat juga sih dosennya siapa, hehehe. Buat mata kuliah yang menarik hati dan dosennya membuat saya merasa mendapat sesuatu yang nggak ada di buku, saya belajar serius. Bikin makalahnya dengan segenap hati. Terus kalau dapet nilai jelek itu nyeseknya nggak ilang. Bisa sampai 3x puasa 3x lebaran. Dapet B aja sakit hati dan kesel sama diri sendiri. Bukan soal nilai sih. Lebih pada kepuasan. Tapi nilai dari dosen juga salah satu indikator apakah pekerjaan kta bagus atau nggak. Selain itu, apalagi?
Tidak ada orang yang jenius di semua bidang. Ketika kamu tidak bisa melalukan sesuatu, selalu ada orang lain yang bisa melakukannya untukmu.
Sepertinya petuah itu saya aplikasikan dengan cara yang salah, ya itu tadi pilih kasih sama sesuatu yang disuka doang. Dan nggak berusaha bisa mengerjakan sesuatu yang nggak diminati dengan sungguh-sungguh. Seadanya. Sekedarnya. Kalau nggak bisa atau nggak suka, biarin aja orang lain yang garap. Fokus sama yang kita suka dan mau. Eh, salah kaprah ini, jangan diikutin :D

Oia, lulus kuliah saya bekerja di bidang yang jauuuuuh banget sama dunia pers. Nggak nyambung. Saya ambil kesempatan itu semata-mata karena materi. Lulus kuliah saya malu kalau masih nyusu sama orang tua soal isi kantong. Pekerjaan ini, gajinya oke, jadwal kerja fleksibel, nggak pake banyak target.

How lucky I am! Baru lulus sidang, belum wisuda udah dapet kerja. Kata orang-orang sih gitu. Alhamdulillah :)

Tapi nepotisme nggak sih saya dapet kerjaan itu karena rekomendasi orang dalam? Perasaan itu ganggu banget (>.<)

Ditambah, saya baca status Facebook Medina Kamil, presenter Jejak Petualang yang ketje. Doi merasa beruntung banget pekerjaannya adalah passionnya. Dia dibayar untuk mengerjakan sesuatu yang disukai. Ah sumpah, ngiri!

Saya kan mau jadi jurnalis. Setelah habis kontrak di pekerjaan lama, saya berniat kembali ke pilihan hidup semula: cita-cita waktu masih ABG.

Dan inilah saya sekarang: seorang calon reporter (carep) di sebuah majalah nasional. Cuma carep, belum reporter. Tapi saya bahagia karena telah kembali ke jalan yang benar, hehee. Bukan cuma Medina Kamil yang beruntung, saya juga! :D

Tanggal 20 Januari 2014 jadi hari pertama masuk kerja. Selama seminggu, saya dan 12 orang carep lain ikut kelas belajar di media tempat kami bekerja.

Hari pertama merupakan masa orientasi atau perkenalan. Kami diajak berkeliling ke semua ruangan, dikenalkan kepada semua karyawan di sana. Setelah itu ada penjelasan soal visi, misi serta hal-hal yang berhubungan dengan SDM.

Girang banget waktu liat meja kerja yang akan saya tempati, dengan komputer sendiri. Saya udah membayangkan bakal masang foto siapa aja di ruang kecil bersekat itu. Saya hias pake pernak-pernik lucu. Harus banyak cemilan juga biar cepet gendut. Tahun ini harus naek minimal 5 kg. Wajib! Resolusi rutin yang nggak pernah tercapai dari tahun 2005 adalah naik berat badan. Saya cengar-cengir sendiri liat meja kosong itu. Singgasana gue! Hahahaa :p

Kelas belajar ini akan berlangsung sampai Rabu depan. Besok materinya tentang keredaksian, kode etik dan manajemen peliputan. Pasti bakalan seseru tadi. O my God! O my God! O my God I'm so excited!

Kita lihat ya kebahagiaan ini bertahan berapa lama. Seminggu? Sebulan? Hihihii, soalnya sepuluh hari setelah hari ini, kelas belajar berakhir. Para carep bakalan diterjunkan untuk meliput, mengejar narasumber dan harus tembus, bermesraan dengan deadline daaaan segala kariweuhan lainnya. Pas nanti mengalami itu, saya masih betah atau muntah darah?

Ah, pokoknya besok bakalan seru!!!

Soal pilihan hidup, saya harus mengakui saya bangga sama Icha, si adik kandung. Dia mengikuti kata hatinya daripada kebutuhan isi dompetnya. Ketika teman-temannya yang juga lulusan pendidikan lebih memilih kerja di swasta, biasanya sebagai pegawai bank, Icha memilih mengajar. Doi bukannya nggak punya kesempatan itu. Dari lamaran iseng-iseng yang dia kirim lewat jobstreet, dia lolos tes masuk bank swasta terbesar di Indonesia.

Gaji guru honorer berapa sih? Kalau dibandingin sama pegawai bank mah kemungkinan cuma setengahnya. Icha sempat bimbang soalnya bank tersebut di Indonesia masuk the best lah. Selain itu, teman-temannya yang pernah mengajar di sekolah maupun tempat bimbel, malah banyak yang banting stir jadi pegawai bank.

Tapi orang tua kita selalu mengajarkan uang tidak harus selalu di urutan pertama. Munafik kalau bilang kita nggak suka punya duit banyak. Cuman ya, uang bukan prioritas dibalik setiap pilihan hidup kita. Beruntung banget punya Bapak dan Ibu seperti mereka.

Si Icha sempet bimbang, soalnya bank yang menerimanya tergolong yang terbesar dan terbaik di Indonesia. Saya sempet memengaruhinya untuk melewatkan kesempatan itu, "jadi guru aja, Cha."

Menjadi pegawai bank tentu bukan pekerjaan tidak terhormat. Malah bagus. Cuma saya sangat mengenal adik saya dan potensi-potensinya selama kuliah. Sayang banget kalau ilmu yang dia serap selama bertahun-tahun kuliah, berakhir di balik meja. Menghitung uang atau melayani nasabah yang ingin buka rekening. Tapi ya, saya terlahir di keluarga yang nggak terbiasa dengan intervensi orang yang lebih tua. Dia yang menjalani adalah yang berhak milih mau jadi apa. Dan Icha memilih jalannya. Menjadi pendidik.
Wow! Kakaks bangga padamu, Diks :p

Soal pilihan hidup ini, saya juga juga harus bilang saya bangga sam pilihan sahabat saya, Dini. Dia meninggalkan pekerjaan yang baru dia geluti selama beberapa bulan, demi mengejar Eropa. Padahal, waktu dia mutusin resign, dia belum punya pekerjaan cadangan. Nekat memang, tapi itu pilihannya.

Sekarang, si sarjana sastra Inggris ini bekerja di sebuah travel agent cukup besar. Gajinya pun lebih besar dari pekerjaan lamanya. Tapi lagi-lagi ini soal bukan materi. Uang yang banyak, ya anggap aja bonus. Dia mencari jalannya menuju Benua Biru. Sebagai karyawan, dia bilang dia punya punya kesempatan untuk liburan dengan tiket gratis dari kantor.

"Boleh ke Eropa lho, Ut!" Saya ikutan bersorak girang waktu dia sampaikan itu. U're on the right track, keep on going sist!

Karena saya nyebut Dini, daripada digebukin karena sirik-sirikan, mungkin saya juga harus memuji pilihan berani yang Inay ambil. Waktu itu Inay cuma karyawan pabrik yang beruntung, dia ditarik ke bagian office karena supervisornya tau Inay sedang kuliah juga sambil bekerja. Lucky her!

Saat posisi Inay sudah lebih baik di tempat kerja, seorang lelaki dari masa lalu tiba-tiba datang. Tanpa basa-basi, dia mengajak Inay menikah. Keseriusan sang lelaki ditunjukkan dengan mendatangi orang tua, nggak lama dari ajakannya sama Inay. Waaah! He's so ready :D

Inay setuju. Dia juga bersedia keluar dari pekerjaannya agar fokus mengurus keluarga. Waktu mengajukan pengunduran diri, Si Bos menawari kenaikkan gaji. Inay juga diiming-imingi diangkat jadi karyawan tetap dalam waktu yang lebih cepat dari prosedur pengangkatan normal. Lagi-lagi, ini bukan soal duit. Inay memilih fokus pada kuliah dan calon keluarga kecilnya. Dia resign. Salut! Nay, semoga dilancarkan pilihan hidupnya. So proud of your big choice! *peyuk, ketjup batsah*

Khususon buat Meonk (harus disebut juga biar nggak terjadi keretakan hubungan :p ), doi kini sedang berusaha 'kembali ke jalan yang benar'. Kalau bicara soal tempat kerja, beuh! yang ngiler pengen di posisi si Meonk pasti banyak. Kerja di kantor pemerintahan yang wilayahnya 'basah' gitu lho. Tapi saya percaya Meonk akan putar arah. Dia lagi nyari jalan keluar sekarang. Semoga nyasarnya nggak kelamaan ya, Menk. Gud luck!

Catatan ini panjang banget yak. Mood nulis lagi asik banget. Eh nggak juga sih, gara-garanya di kost-an baru no tv no lepi. Belum dibawa karena waktu dateng cuma bawa badan sama baju buat seminggu. Untungnya punya hp pintar jadi nggak mati gaya banget :D

Rabu, 11 Desember 2013

My First Interview : Outfit

Sebenarnya ini bukan wawancara kerja pertama saya. Sebelumnya saya pernah mengalami ini sewaktu freelance di Litbang Kompas, menggantikan posisi orang selama 3 bulan.  Waktu itu saya PD diterima karena direkomendasikan sama orang sebelumnya :D

Interview kedua sewaktu melamar untuk posisi Tenaga Pendamping pada suatu program bantuan pemerintah di dinas kabupaten. Waktu itu juga PD bakalan lolos karena memang tidak banyak yang melamar. Kenapa? Akses informasi terbatas. I think I did nepotism about access to information.

Wawancara yang ketiga ini, posisi saya bukan anak raja yang bisa lolos tanpa usaha. Saya mencari pekerjaan, mempersiapkan surat lamaran dan CV dengan serius, lalu mengirimkan lamaran. Tak ada orang yang saya kenal untuk merekomendasikan saya seperti pekerjaan sebelumnya. Mendapatkan pekerjaan ini harus pakai usaha.

Saya melamar lowongan pekerjaan untuk posisi jurnalis. Profesi yang saya minati dengan sepenuh hati. Kalau dibuat skala prioritas "The Most Wanted Job" versi Putri on the crot, akan saya urutkan seperti ini:
1. Jurnalis
2. Pemilik travel agent
3. Relawan di konservasi terumbu karang, orang utan, panda, penyu dll.

Tolong jangan ada yang protes kenapa posisi 'istri' atau 'ibu' tak nampak di daftar itu. Buat saya, menjadi istri dan ibu bukanlah suatu profesi, melainkan kewajiban mulia perempuan. Pekerjaan memberikan kita keleluasaan menentukan mau atau tidak, sedangkan kewajiban tak memberi pilihan itu. Eaaaah :D

Tuh kan melebar dari topik utama!

Karena ini pekerjaan idaman, saya mempersiakan kelengkapan persyaratan yang diminta dengan sungguh-sungguh. Termasuk soal busana. Semalam, saya ngobrol dengan teman yang "berpengalaman" dipanggil wawancara oleh perusahaan media.

"Pake celana bahan sama kemeja? Bajunya dimasukkin jangan? Hehe" Pertanyaan konyol itu saya lontarkan kepada Ka Dita, senior di kampus yang kini bekerja di Antara. Untung Ka Dita itu baik hati menjawab hal-hal nggak penting yang terlintas di benak saya.

"Ga punya sepatu pantofel, Ka. Adanya kets sama sepatu plastik. Owh, pake flat shoes aja. Oke, oke"

Tak puas dengan saran Ka Dita, saya bertanya pada Gita, teman seangkatan yang kini kerja di Tempo.

"Waktu gue interview sih ada cowok yang pake kaos, jeans sama sepatu kets. Tapi bagusnya formal aja, Put. Biar kesannya kita menghormati gitu"

Soal busana ini agak menjadi perhatian saya, selain kelengkapan persyaratan. Kakak kelas saya cerita kalau temannya pernah dikomentari terlalu klimis sewaktu diwawancara orang tv. " Temen aku pake blezer, kemeja dimasukin, sepatu kantoran.. Emang kamu tuh mau ngelamar ke bank ya formal begitu, gitu kata interviewernya"

No! No! No! Semoga saya tak mengalami itu.

Setelah bongkar-pasang beberapa kemeja ini-itu...

Saya akhirnya menentukan mau pakai apa untuk wawancara siang nanti. Dengan atasan kemeja bekas kakak yang warnanya baby pink, jilbab pink tua punya adik saya, celana bahan warna abu-abu bergaya santai dan sepatu plastik warna coklat! Baru sadar kalau saya nggak punya flat shoes. Adanya flat shoes plastik :p

Cerita grasak-grusuk berangkat, gerimis, nyasar sampai tiba di TKP saya skip yaa. Loncat ke cerita: Saya pun membuka pintu gedung tempat saya wawancara. Setelah menyampaikan maksud ke mbak-mbak di meja di resepsionis, saya diberikan formulir berlembar-lembar untuk diisi. Di lobi, saya melihat seorang gadis tengah mengisi formulir yang sama dengan punya saya. Sang kompetitor nih!

Sembari melambungkan senyum, saya duduk di kursi sebelahnya. Bukannya langsung mengisi, saya malah memperhatikan penampilanya. Berjilbab, kaos yang dilapisi blazer coklat muda, celana jeans, kets merah yang agak kotor, serta tas keril kira-kira seukuran 40L. Yang salah kostum saya apa dia ya?

Beberapa menit kemudian, datang gadis lain yang saya tebak punya maksud yang sama dengan saya. Dia menuju resepsionis dan kembali dengan formulir. Rambut ikal sebahu diikat, dress hitam dengan motif bunya kecil-kecil, skinny jeans dan wedges sekira 3 cm. Jiiiir! Mutlak saya yang salah tempat!

Seorang lelaki membuka pintu, lalu menuju resepsionis. Memakai kaos berkerah, celana jeans dan sepatu besar mirip sepatu gunung. Saya makin nestapa. Merasa satu-satunya calon pegawai bank di antara calon-calon jurnalis. Huwaaa!

Dan lelaki-lelaki lain dengan penampilan serupa berdatangan. Saya pun pengen nangis kejer! Tuhan, mengapa aku berbeda? :(

Eh, eh! Siapa itu?
Saya menangkap sosok lelaki kurus, berkacamata, memakai kemeja biru dongker motif garis horizontal, celana bahan, berkaus kaki dan pakai sepatu kantoran. Untung saja sepatunya nggak disemir sampai kinclong pake sunlight :p

Terimakasih, Tuhan... Engkau sungguh penyayang mengirimkan orang yang lebih rapi dari saya :D

Rabu, 23 Januari 2013

Reportase Investigasi

      Saya pernah bikin tulisan tentang reportase investigasi buat materi skripsi. Sayangnya ga kepake, hiks... Tapi kalau dibuang sayang. Jadinya tulisan ini sempat "mendekam" di laptop sampai akhirnya dirilis di blog.
        Kalau baca berita laporan investigasi karya wartawan sendiri tuh seneng deh. Bangga punya wartawan yang ulet, gigih, rajin dan berani ngambil resiko tentunya. Meskipun agak susah nemuin laporan investigasi di media massa sekarang ini, tapi ada beberapa media yang masih "berbaik hati" menghadirkan karya indah ini. Salah satunya majalah Tempo, my fav ones! :-D
      Sebagai pembuka, saya pakai prolognya acara Mata Najwa episode selidik jurnalis biar kelihatan keren, ahahahaa..... So, cekidot!


Menjadi wartawan adalah sebuah kekuasaan. Wartawan bisa menjadi seorang tiran atau pembuka tirai kebenaran. Ada yang menderita dan gila oleh kebohongan wartawan, ada pula investigasi wartawan menjatuhkan kewibawaan  kekuasaan. Watergate, buloggate, skandal Bre-x, penjara Artalita contoh investigasi yang memberi arti. Jurnalisme tanpa investigasi seperti kebudayaan tanpa tradisi.(1)
 
Cepatnya arus informasi membuat media massa semakin kompetitif. Media massa harus bertarung dengan sumber-sumber informasi non-tradisional seperti stasiun televisi khusus berita, program-program breaking news di televisi dan radio dan situs berita online. Belum lagi kemunculan jurnalis warga (citizen journalist) yang menulis berita melalui jejaring sosial, milis, situs dan blog pribadi.
Proses keusangan informasi berlangsung sangat cepat akibat derasnya arus informasi dari berbagai media massa maupun individu yang menjadi jurnalis warga.
Kompetisi tersebut berjalan ketat sehingga mendorong media massa bekerja dengan naluri aktual atau kesegaran yang tinggi. Akibatnya adalah tidak adanya kemendalaman laporan yang disuguhkan. Berita jenis in-depth reporting dan investigative reporting menjadi langka dalam pemberitaan media yang menekankan aktualitas tinggi.
Wartawan lapangan dituntut untuk segera mencari, mengumpulkan dan mengirimkan informasi tanpa memiliki cukup waktu untuk memahami kondisi-kondisi yang mungkin dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana sebuah peristiwa terjadi.(2) Pencari berita hanya menyajikan apa yang ada dipermukaan karena ruang gerak yang terbatas dan tuntutan aktualitas.
Situs berita online mengklaim bahwa semua peristiwa penting yang terjadi bisa dibaca di situs mereka sebagai yang tercepat dalam mengabarkan peristiwa daripada media cetak dan elektronik.
Beberapa media online mengizinkan wartawan lapangan tidak lagi menulis berita di kantor. Mereka hanya perlu menghubungi para redaktur kemudian memceritakan tentang apa yang terjadi. Setelah itu berita ditulis oleh tim penulis tersendiri. Imbasnya faktor keakuratan sering kali terabaikan, apalagi kemendalaman.(3) Pola penyajian berita semacam ini menyebabkan masyarakat terbiasa dengan berita langsung (straight news) yang berisi informasi-informasi ringkas dan langsung ke tujuan.
Berita ringkas yang disampaikan tidak selalu memenuhi unsur 5W+1H (what, when, where, who, why and how). Cukup memiliki unsur ‘apa’ dan ‘kapan’, atau minimal ada fakta, berita tersebut sudah layak diterbitkan. Akibat tuntutan kesegaran dan ketatnya kompetisi, banyak media yang memutuskan untuk tidak lagi memberi ruang bagi in-depth reporting dan investigative reporting.(4)
Wina Armada mengemukakan sebab-sebab perusahaan media atau wartawan enggan melakukan peliputan investigasi karena adanya penilaian bahwa liputan investigatif membutuhkan biaya tinggi dan menghabiskan banyak waktu. Selain itu, hasil akhir yang tidak jelas juga menjadi alasan insan pers malas melakukan kerja investigasi.
Setiap investigasi memang mengandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Hasil yang negatif tersebut juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan. Belum lagi resiko besar yang harus dihadapi. Maka tidak heran jika perusahaan media lebih senang menampilkan berita ringkas daripada memproduksi program investigasi karena menghabiskan banyak biaya, waktu dan energi.(5)
Hanya beberapa media massa yang memberi kesempatan bagi para jurnalisnya untuk membuat laporan komprehensif. Di televisi, laporan panjang  tersebut dikemas dalam program khusus berdurasi 30 menit seperti Metro Realitas (Metro TV) dan Sigi (SCTV). Namun, ada juga media yang menempelkannya secara berseri dalam program berita reguler sebagai laporan khusus seperti di Trans 7 dan RCTI.
Program investigasi memberikan informasi yang lebih lengkap dan mendalam mengenai suatu isu besar yang tidak cukup dibahas dalam dua atau tiga menit. Al Hester menyebutkan perlunya liputan investigasi adalah desakan untuk ‘suatu perubahan harus dilakukan’ dan ‘suatu perubahan harus terjadi. Oleh karena itu, menurut Seno Gumira Ajidarma beban ideologis liputan investigasi lebih berat dari liputan mendalam (in-depth reporting) yang mengembangkan unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) dari rumus 5W+1H. Acuan lain yang membedakan antara liputan investigasi dengan liputan mendalam yaitu liputan investigasi menyangkut kepentingan umum dan terdapat indikasi perbuatan yang salah.(6)
Investigative berasal dari kata Latin vestigum yang berarti jejak kaki. Sedangkan reporting berasal dari bahasa Latin reportare, artinya membawa pulang sesuatu dari tempat tempat lain. Jadi, Investigative reporting atau laporan investigasi secara etimologi berarti membawa pulang jejak kaki dari tempat lain. Dari pengertian tersebut, Paul N Williams menganalogikan wartawan seperti pemburu predator. Wartawan mengikuti jejak langkah si predator untuk mengetahui keberadaan buruannya.(7) 
Wartawan Newsday Robert Greene menyebutkan liputan investigasi sebagai produk jurnalistik menyangkut kepentingan publik, namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: 
  1. liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindaklanjuti oleh media 
  2. subyek investigasi merupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan 
  3. ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik.(8)
Ada perbedaan besar antara membuat liputan investigasi dengan melaporkan hasil investigasi yang dilakukan penyidik seperti KPK, polisi atau jaksa. Melakukan investigasi mengenai kasus korupsi yang menyeret beberapa nama politisi berbeda dengan hanya menyiarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh penyidik yang berwenang. Ada liputan yang sebenarnya hanya memberitakan hasil investigasi yang dilakukan aparat hukum, kemudian digadang-gadang sebagai produk invetigasi hanya karena memegang bocoran  Berita Acara Pemeriksaan (BAP) beberapa tersangka atau memperoleh fotokopi dokumen dari penyidik, lalu laporan tersebut dilaim sebagai produk investigasi.
Padahal sebenarnya, wartawannya hanya melaporkan ulang apa yang sudah ditemukan oleh penyidik. Temuan yang wartawan sajikan adalah temuan aparat, bukan upaya investigasinya sendiri, yang jika dilakukan bisa saja menguatkan fakta versi penyidik, atau justru membantahnya.
Meskipun demikian, wartawan yang menyelidiki ulang hasil temuan penyidik bukan berarti tidak bisa menghasilkan produk invetigasi. Bisa jadi, fakta yang didapatkan wartawan dapat lebih melengkapi, mempertajam atau membantah temuan-temuan aparat yang berwenang.(9)
Beberapa karya jurnalis Indonesia yang dilabeli investigasi menimbulkan perdebatan tentang layak atau tidaknya predikat tersebut disandang. Hanya sedikit yang disepakati bersama sebagai karya investigasi. Bondan Winarno menulis buku yang memuat hasil penyelidikannya mengenai skandal emas Bre-X di Busang Kalimantan Timur. Judul bukunya Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Bondan mengonstruksi fakta-fakta yang didapatnya melalui investigasi ke Kalimantan, Filipina dan Kanada untuk menelusuri seluk-beluk kasus penipuan pertambangan emas terbesar di Indonesia yang melibatkan perusahaan asal Kanada Bre-X. Karya tersebut disepakati sebagai produk liputan investigasi.(10)
Tayangan berita berdurasi tiga menit di televisi bisa jadi merupakan liputan investigasi. Karya investigasi bukan dinilai dari panjangnya laporan yang menghabiskan berlembar-lembar halaman di koran atau memerlukan durasi yang lama untuk tayangan televisi. Menurut Dandhy Dwi Laksono, hal tersebut terjadi karena adanya kerancuan mengenai dua hal: 
  • Investigasi sebagai produk atau karya jurnalistik
  • Investigasi sebagai teknik yang digunakan dalam meliput berita(11)
Wartawan yang menelusuri tentang kasus bakso tikus lalu merekam produksi bakso tersebut dengan kamera tersembunyi dinilai sebagai karya investigasi, padahal dia hanya menggunakan teknik investigasi. Memang wartawan tersebut melakukan salah satu teknik investigasi, akan tetapi laporannya belum tentu dinilai sebagai produk investigasi. Produk karya investigasi pasti menggunakan teknik investigasi dalam proses peliputannya. Namun, teknik investigasi belum tentu menghasilkan produk investigasi.
Beberapa hal seperti perlindungan narasumber, narasumber anonim, penyamaran, penggunaan kamera tersembunyi, hingga reka ulang kejadian (proses rekonstruksi) merupakan teknik-teknik investigasi yang bisa dilakukan wartawan. Kerja investigasi tersebut boleh dilakukan asalkan sesuai dengan kode etik jurnalistik. Ada dua kode etik yang menjadi pedoman wartawan Indonesia yaitu Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang dikeluarkan oleh Dewan Pers dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran yang dibuat oleh Komisi Penyaiaran Indonesia (KPI). Meskipun setipa organisasi wartawan memiliki kode etik sendiri, namun semuanya mengacu pada dua standar kode etik yang dibuat Dewan Pers da KPI.(12)
Ada beberapa elemen yang harus dipenuhi agar disebut sebagai produk investigasi:
1. Mengungkap kejahatan yang menyangkut kepentingan publik atau tindakan yang merugikan orang lain 
2. Kasus yang dikupas berskala luas dan sistematis (berkaitan atau mempunyai benang merah)
3. Menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan memetakan persoalannya dengan gambling
4. Mendudukkan aktor-aktor yang tetrlibat seperti pelaku kejahatan, kambing hitam, dan korban yang terlibat disertai bukti-bukti yang kuat
5. Publik dapat memehami kompleksitas masalah yang diangkat dan membuat keputusan berdasarkan laporan tersebut.(13)
Jika sebuah laporan panjang memiliki semua elemen seperti yang dijabarkan, berarti laporan tersebut adalah produk investigasi dan menggunakan teknik investigasi. Akan tetapi, jika laporanya tidak memenuhi kelima elemen, laporan tersebut bisa dikategorikan sebagai laporan mendalam (in-depth reporting).

Referensi

(1) Prolog Mata Najwa episode Selidik Jurnalis (Rabu, 25 Januari 2012)
(2) Ade Armando, et.al., Media dan Integrasi Sosial : Jembatan antar Umat Beragama (Jakarta : CSRC UIN Syarif Hidayatullah, 2011) h. 15-16
(3) Ibid., h. 16
(4) Tim Penyusun Adiwarta Sampoerna, Karya Terbaik Anugerah Adiwarta Sampoerna 2006-2010: Jejak Rekam Lima Tahun Karya Jurnalistik Terbaik Indonesia. (Jakarta : PT Grafindo Media Pratama, 2011), h. 18
(5) Septiawan Santana, Jurnalisme Investigasi (Jakarta: Yayasan Obor Indoensia, 2004), h.12
(6) Tim Penyusun Adiwarta Sampoerna, Op.cit., h. 18
(7) Septiawan Santana, Op.cit., h. 135
(8) Andreas Harsono, “Apa Itu Investigative Reporting,” artikel diakses pada 19 Maret 2012 pukul 19.30 WIB dari http://www.andreasharsono.net/1999/02/apa-itu-investigative-reporting.html
(9) Dandhy Dwi Laksono, Jurnalisme Investigasi (Bandung : Kaifa, 2010), h. 26
(10) Andreas Harsono, Loc.Cit.,
(11) Dwi Laksono, Op.cit., (Bandung : Kaifa, 2010) h. 21
(12) Ibid., h. 353
(13) Ibid., h. 23