Senin, 19 Juli 2021
Jarak
Senin, 27 Januari 2020
Bebal
Minggu, 01 Januari 2017
2017
Janji mau rutin nulis di sini tinggal janji. Dari Juni 2016 ke Januari 2017 ada berapa purnama tuh? 😁
Kalau nurutin denda Rp 50 ribu setiap nggak nulis kaya di tulisan sebelumnya, mungkin hasilnya bisa buat DP mobil. Ok, lebay. Nggak sebanyak itu sih. Uang muka mobil-mobilan mungkin cukup. Parahnya, itu denda nggak pernah ditunaikan 🙈
Nah, mumpung ada momentum tahun baru, tekad seminggu satu tulisan mau digaungkan lagi. Cuma nggak usah pake denda kali ya, da matak mubazir bikin aturan cuma buat dilanggar.
Dicoba lagi seminggu satu tulisan. Minggu depan gagal, masih ada minggu depannya lagi dan minggu-minggu berikutnya. Kikituan weh sampai Anggun mau jadi duta shampoo lain 😂
Semoga 2017 ini passion nulis balik lagi. Baik lagi.
Kamis, 09 Juni 2016
Ikrar!
Menurut saya, tulisannya payah. Tidak menarik.
Mungkin karena keseringan nulis berita, saya jadi kurang antusias bikin cerita. Pas memulai, bawaannya berasa lagi bikin berita dan ditungguin redaktur gitu, hahaha. Suasana imajiner yang menyebalkan, jadi aja gagal eksekusi.
Kamis, 17 September 2015
Deadline
Majalahnya sih emang terbit setiap Kamis. Cuman kan redaktur harus nulis berita dari laporan-laporan reporter. Terus ada proses editing naskah, lay out sampai dicetak. Semuanya udah terjadwal biar bagian sirkulasi bisa mendistribusikan majalah ke agen maupun langganan pada Kamis subuh.
Jadi, kalau misalnya ada kejadian heboh yang mengguncang dunia persilatan pada Selasa sore, itu masih mungkin dikejar. Ada kelonggaran kalau isunya penting banget. Tapi kalau kejadiannya Rabu atau Kamis, ya wassalam. Moment itu lewat saja karena naskah udah di percetakan.
Rabu, saya cuma rapat perencanaan di kompartemen masing-masing, setiap pukul 11 siang, yang pada kenyataanya selalu molor karena pada kesiangan :D
Beres rapat, kegiatan bebas bagi reporter. Yang rajin, mungkin menghadiri undangan atau agenda yang dia minati. Yang males, ehm-macemsayah, melakukan aktivitas lain di luar kerjaan kantor. Istilah budak sakola mah mabal, hahaha.
Para redaktur, yang rajin, udah mulai riset-riset berita untuk bahan penugasan buat reporter. Yang belum mulai bikin, bukan berarti tidak rajin. Barangkali ada kesibukan lain, haghaghag.
Kamis dan Jumat, para reporter masih magabut KECUALI bagi Si Rajin dan Si Kurang Beruntung. Ini cuma kategori asal yang saya bikin sih. Yang rajin ya itu tadi, mereka yang gemar menghadiri undangan-undangan media itu tadi. Yang kurang beruntung adalah para reporter apes yang kebagian vel awal atau laporan yang deadlinenya Jumat siang. Siyal, pekan ini kami dapat makanya kami curhat begini.
![]() |
| Ilustrasi Detlen ini dari sini |
Jadi, di redaksi itu ada tiga kompartermen: Nasional, Ekonomi dan Hukum.Saya lagi di Nasional. Liputannya soal isu nasional, yang keseringan tentang pulitiks. Isu beginian masuknya File Tengah, deadlinenya Senin-Selasa DURJANA.
Tapi ada lagi vel awal, yang penugasannya turun Kamis terus deadlinenya juga Kamis, atau mentok-mentoknya Jumat pagi. File ini kudu beres cepat karena disetor duluan ke percetakan biar ga pak-pik-pek sama naskah-naskah rubrik wajib.
Di Kompartemen Nasional, vel awalnya itu semacem rubrik lingkungan, pendidikan, agama, seni, film, resensi buku. Nah, saya beruntung jarang kebagian. Walhasil, kalau Kamis-Jumat saya lebih sering terlihat menghabiskan uang di tempat jajan daripada liputan :P
Eh tapi dulu saya sering resensi buku lho. Datengin acara launching atau diskusi buku, terus ditulis. Rajin kan?
Ya, ya, itu dulu pas awal-awal dipindahin dari Hukum ke Nasional. Sekarang, berharap saya rajin kaya dulu itu ibarat pepatah mah jauh panggang dari api. Hiks...
Lagi detlen kok sempet-sempetnya curhat? Kamu bohong ya bilang kebagian vel awal?
Nggak, beneran kok saya dapet penugasan soal pendidikan. Narasumbernya dua. Yang satu sih udah tembus. Ini lagi nungguin yang satunya lagi, yang nampaknya sedang sibuk sekali. Karena kalau lihat percakapan sms kami, saya seperti sedang bermonolog:
"Pak, saya Putri dari majalah X. Mau tanya soal bla bla bla ke Bapak. Ada waktu untuk ketemu? Terimakasih :) "
"Pak gimana wawancara soal itu, kira-kira kapan saya bisa ketemu Bapak"
"Pak, kalau tidak memungkinkan ketemu, boleh wawancara via telepon? Atau ada rekomendasi narasumber lain? Deadline saya malam ini :D "
Saya hampir pengen sms, "Pak? Pak? Bapak mati ya?"
Untungnya nggak jadi karena Si Bapak Dirjen di Kementerian X itu bales irit, "Ya boleh."
Vel awal itu deadlinenya pendek. Dari pelajari isu, lobi narasumber sampai dibikin laporan, waktunya sehari atau ada tolerasi sampai Jumat pagi, sebelum Jumatan. Masalah lain soal narasumber. Mereka itu unpredictable responnya.
Kadang, yang kita pikir gampang, taunya susah. Narasumber yang kita udah suuzon nggak bakalan tembus, taunya sangat responsif. Ada yang kata orang, wah dia mah gampang dan orangnya baik banget, tapi pas kita dihubungi kok dicuekin. Ini rasanya hina dina banget, "Masa dapet dia aja nggak nembus, gue pernah ke dia, gampang kok." Duh, menyakiti sanubari banget!
Ya gitu deh kerjaan saya: nggak jelas. Mirip kelakuan yang lagi nulis ini. Yang jelas, meskipun keinginan "gue mau resign!" sering muncul, saya nggak pergi-pergi. Nggak beneran bilang mau cabut.
Ooh, inikah namanya cinta? INIKAH? INIKAH?
Kamis, 10 September 2015
Hemat
Jumat, 21 Agustus 2015
Begadang
Lho, emang bisa?
Bisa dong!
Misalnya pas tengah malam kamu susah tidur, terus pelarianmu adalah gadget. Karena nggak jelas apa tujuannya, kamu buka apa saja. Klik acak. Klik asal. Termasuk hal yang nggak-nggak. Awalnya iseng, lalu keterusan. Kecanduan. Yang pas dibuka bikin kamu sakit hati. Yang pas dibuka, bintang-bintang di atas sana meredup. Berduka untukmu. Menyayangkan ketidak sengajaanmu.
Baper amat! Syanah boboks!
Yang Terlewatkan
Terlalu banyak yang harus digali saat yang dicari sudah sedemikian dalam. Cerita-cerita itu berlalu begitu saja, tanpa menyertakan saya. Dan di sini lah saya. Gagap dalam kaget. Gugup menerima kehilangan. Saya kalah banyak.

Minggu, 30 November 2014
Marah
Kalau sudah begini, saya harus bagaimana?
Selasa, 04 Maret 2014
Transkrip
Awalnya, saya ngetik ini buat ditulis di pesbuk. Tapi panjang banget. Udah 100% selesai, saya cut ke blog *klarifikasi ga penting*
---
Pengen nge-blog, nulis apa aja yang dialamin sehari-hari. Pengen tinggal pengen.
Pas inget harus nulis berita yang ditugasin, niat 'meramaikan' blog -yang entah ada yang baca entah ga ada selain penulis- cuma sekedar niat.
Apa tadi? Nulis berita?
Bikin transkrip wawancara yang kemarin aja belom.
Durasinya 58 menit. Kemarin sempet nyicil sampe menit ke 21. Itu aja udah 6 lembar, soalnya si narasumber termasuk orang yang bicaranya cepet, padet, sesek, penuh!
Tipe pemberi informasi yang baik untuk pemenuhan gizi kepala, tapi ga baik untuk kesehatan jari-jari. Bikin kriting. Cangkeul!
Soal transkrip, beberapa teman saya masang target: narasumber dibatesin ngomongnya cuma 30 menit. Maksimalnya segitu. Biar jempol, telunjuk dkk ga kaku-kaku gegara kebanyakan nari di atas keyboard, hihiii
Apes, cicilan transkrip itu raib pas besoknya saya nyalain komputer. Kelakuan kompi saya emang suka error. Mungkin gara-gara faktor U, bisa juga emang itu kompi banyak gaya. Hobi bertingkah. Kadang nge-hang, kadang lemot.
Berarti besok bikin transkripnya dari awal lagi dong?
Such a stupid question! It's a must!
Baiklah, baiklah...
Terus ya, pas udahan wawancara, si narsum yang notabene seorang pejabat di Kementerian A, membekali saya dengan segepok dokumen.
Ada notulensi rapat, data-data statistik, surat rekomendasi ke Kementerian B dan C yang berkaitan dengan isu yang saya garap.
Belum lagi 'bonus' salinan Peraturan Menteri (permen) B dan C yang nyambung sama topik bahasan. Isi permennya banyak pasal-pasal. Nambah-nambahin derita hati aja >.<;
Ini soal impor komoditi X (maenannya pake kode-kode mulu sik?). Si narsum menyarankan saya bertanya ke bea cukai soal dokumen impor apa yang dipakai untuk mendatangkan barang X ini.
Doi aneh deh! Masa soal dagang-dagangan sama negera lain, disuruh nanya ke cukai?
Bukankah cukai itu sejenis penyedap rasa makanan yang sering ditambahkan ke kuah bakso atau asinan? *lalu disambit pake gerobak bakso*
Sumpah, banyolan di atas garing abis! Nggak lucu ya?
Ya udah. Lupain.
Mungkin saya lelah. Mungkin saya mulai lapar. Nenek bilang, "makan dulu, sana!"
Bukannya ke meja makan, saya malah nyari ayam-ayam. #apaansih #lawakanculunmaksimal
Ini udah sebulan lebih 4 hari saya kerja di sini. Perkembangan terbaru, saya masih betah menjalaninya :D
Ngantuk. Tidur ah. Transkripnya ntar tengah malem. Diniatin melek. Tanda keseriusannya dengan masang alarm.
Ka-lau-ba-ngun-i-tu-ju-ga.
Pas kepala nempel di bantal, kesadaran ilang total. Kuping mendadak budek. Bangun-bangun rusuh :D
Sekian.
Selamat malam!
Kamis, 13 Februari 2014
Being a Journalist
***
Hampir Desember!
Kok bisa?
Eaaaah! Lebay tak terkira :p
Eh tapi beneran lho hati saya nggak di sini…
Padahal saya sengaja nggak mencalonkan diri dan absen saat rapat pemilihan pemimpin redaksi yang baru. Ya nggak Pe-De aja jadi leader, nggak ada bakat.
Dan masa ketika memakai seragam putih-abu ini lah saya membulatkan tekad untuk menjadi seorang penulis berita. Pencari berita maksudnya. I wanna be journalist! Gara-garanya sepak bola.
Aaaak, I-RI A-BIS!!!
Sungguh ini alasan yang bodoh…
Cuma saya mempertimbangkan minat saya condong ke mana. Biaya kuliah yang murah pun jadi alasan kenapa saya milih UIN, soalnya ibu saya single fighter yang ketiga anak perempuannya masih sekolah. Lagian masa ngambil yang di Bandung, masa belajar sastra Inggris di sekolah teknik?
Karena masih seumur jagung, fasilitas yang saya seringkali nggak memuaskan. Misalnya dosen pengajar mata kuliah jurnalistik yang berpengalaman sebagai jurnalis masih sedikit. Bisa dihitung jari.
Kadang agak kecewa aja kalau tahu dosen pengajar mata kuliah jurnalistik, komunikasi massa dll, nggak pernah berprofesi sebagai wartawan.
Bagaimana mana bisa seorang mengajarkan cara menjadi seorang jurnalis yang baik sementara dia tidak punya pengalaman apapun di dunia kerja pers? Ibarat belajar soal wirausaha, tapi pengajarnya bukan enterpreneur. Kurang afdol.
Malsuin Surat Magang
Bagusnya, saya lihat dari tahun ke tahun jurusan saya yang masih bayi ini berkembang lebih baik dengan bertambahnya umur, biaya SPP dan mahasiswa :-D
Hari itu saya berangkat diantar teman untuk wawancara sambil membawa CV dan foto dengan niat minta dibolehin magang. Kalau ditolak mau maksa :D
Saya bertemu macam-macam narasumber dari yang banci kamera sampai yang benci kamera. Saya juga sempat melihat istri pejabat desa terdakwa korupsi nangis-nangis, agar gambar suaminya tidak ditayangkan dan kasusnya tidak diangkat ke masyarakat luas.
Pengalaman seperti itu mahal harganya buat saya, karena tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Untuk semua pengalaman itu, saya harus mengucapkan terima kasih sama Pak Johan :D
Si Item
Kenapa gambar ini lucu?
Gambarnya menjelaskan beda tas cewek dan cowok. Kesannya kaum hawa itu ribet banget soal tas. Tiap acara pake tas yang beda-beda.
Kalau ngeliat jenis kelamin sih, saya tergolong kelompok yang kiri. Tapi kalau liat jenis tas yang dipakai...
Mutlak, saya termasuk yang kanan (^_^);
Yup! I always use the same bag for any ocassion! Lol...
Kuliah, ke mall, ngantor, maen, nongkrong, ke pantai, piknik ke luar kota, sampai naik gunung, ya tasnya yang itu-itu juga.
Namanya si item. Baru dikasih nama pas catetan ini dibikin. Biar kesannya akrab dan punya panggilan sayang :D
Warnanya item. Full black. Cuman ada garis pink vertikal di bagian samping tas, selebar 1 cm. Tasnya simpel, kaya yang manggulnya.
Am I that simple? Oke, oke, kadang suka rusuh sendiri sih. Puas?
![]() |
| Ini Lho tersangkanya! Penampakan Si Item |
Kita pernah muncak di tiga gunung: Gunung Gede, Guntur dan Papandayan. Padahal doi cuma daypack, buka tas gunung. Demi loyalitas, dia mau aja ikut nanjak. Nggak nolak. Nggak minder sama tas-tas lainnya yang segede kulkas waktu dijejerin sama tas pendaki lain.
Si Item juga yang nemenin saya backpacking pertama kali. Waktu itu ke Jogja. Naik kereta ekonomi seharga Rp 35.000 dari Senen ke Lempuyangan. Keretanya sungguh tak beradab. Di bawah kursi saya ada yang tidur memanjang, jadi risih. Pria-pria yang duduk di hadapan saya juga bikin takut. Saya peluk kenceng-kenceng si Item.
Sering banget punya pengalaman pertama sama si Item.Pertama kali ngerasain interview kerja. Hari pertama masuk kerja yang segalanya masih terasa canggung. Pertama kali coba piknik ala backpacker dan pertama kali naik gunung, kaya yang udah disebutin sebelumnya. Sama si Item, saya thawaf mengelilingi Kabah. Di dalam perut si Item, saya simpan air zam-zam untuk diminum ketika haus. Pesanan saudara juga sih, buat obat. Di Islam, air zam-zam itu banyak khasiatnya. Nah apalagi kalau dibawa thawaf sambil mulut kita berdoa.
Pokoknya selama hampir lima tahun ini, Si Item tau apa aja yang saya lakuin. Dengan loyalitas tinggi, dia selalu ikut ke mana aja saya pergi. Makasih ya, Tem. It means a lot to me, muaaach!
Sekarang, itemnya si Item nggak segarang dulu. Pudar dimakan usia. Selain soal warna, doi masih prima banget! Resleting belum jebol atau macet. Kainnya nggak ada yang sobek. Ciamik bangetlah bodinya, kaya body yang p
Rabu, 22 Januari 2014
Hari Keempat Jadi Carep
Saya bersyukur banget kerja di majalah ini. Kita, para calon reporter (Carep) dikasih pelatihan dulu sebelum terjun meliput. Kaya masa orientasi gitu deh.
Nggak semua perusahaan media melakukan ini. Yang saya tahu majalah sana (ya, ya, yang saya susah move on dari ambisi jadi jurnalis di sana itu lho), juga membekali carep-carepnya di kelas belajar.
Setelah pembekalan selesai, carep bakalan ditandemkan dengan reporter untuk awal-awal penugasan. Tujuannya bagus, supaya bisa belajar dari yang senior tentang hal-hal praktis di lapangan. Enak kan, nggak langsung dilepas sendirian :D
Saya dan 10 carep lain adalah angkatan 2014. Di kelas belajar, kadang-kadang anak marketing juga masuk kelas untuk bahasan tertentu. Beberapa materi pembekalan memang bersifat umum tentang perusahaan.
Di media kita (cieeh kita, haha), ada sekat yang disebut garis api antara pemasaran dan pemberitaan. Jurnalis di sini dilarang nyambi cari iklan, bahkan cuma membantu penulisan advertorial juga nggak boleh. Marketing punya penulis iklan sendiri. Fotografer berita dan iklannya pun berbeda. Reporter cari narasumber untuk pemberitaan. Marketing cari klien buat masang iklan. Jelas batasannya.
Lagi-lagi bersyukur kerja di media yang udah 'ajeg' dari segi sistem maupun finansialnya. Beberapa wartawan (biasanya media lokal, beberapa doang mungkin) punya tugas ganda: wartawan merangkap sales iklan.
Lucunya, garis api itu tidak hanya berlaku dalam hal tugas, tapi juga penampilan, hihi.
Beneran deh, carep sama marketing itu 'cangkang luarnya' lumayan timpang!
Nggak usah bilang posisi kita pas perkenalan pun orang tahu mana carep, mana pemasaran. Yang marketing tentu lebih modis dan terawat :D
Yang carep? Nggak jauh dari kemeja (kadang kaos!), jeans dan kets.
Tapi dalam pergaulan sih nggak bersekat. Anak-anak marketing itu menyenangkan kok, nggak sok-sokan ekslusif. Bukan cuma mereka sih, semua orang di berbagai bidang dan posisi juga baik dan ramah. Beneran nih, bukan jilat-jilat atasan.
Buktinya, kemarin saya ikutan rapat kompartemen ekonomi. Sebenernya terpaksa 'diikutkan' biar tahu suasana penentuan berita-berita yang bakal digarap. Saya nggak sendiri. Bang Averos sama Vino G Bastian abal-abal juga kebagian ikut di sini. Carep yang lain dibagi-bagi ke kompartemen nasional dan hukum.
Suasana rapat itu egaliter banget! Semua orang bebas berpendapat tentang hal-hal yang menarik diangkat. Reporter boleh mengkritisi bahkan menolak usulan topik dari redaktur. Asalkan masuk akal dan sopan, itu fair. Bahkan para carep juga dimintai saran dan usulan oleh redaktur pelaksana. Padahal awalnya kita, eh saya doang, merasa udah kaya obat nyamuk. Cuma duduk manis dan mendengarkan. Jadi merasa tersanjung gitu pada 'ngeh' ada kita dan diajak terlibat diskusi :D
Selama rapat di kompartemen ekonomi, saya nggak mudeng banget isu-isu yang dibahas :p
Bukan tentang harga bawang naik jadi berapa. Bukan. Itu sih bisa baca di media online.
Koran dan online mengutamakan kesegaran atau aktualitas, sedangkan majalah memberikan kemendalaman. Emang beda jualannya dari online, koran, majalah, televisi dan radio. Masing-masing punya produk khas.
Emm, waktu ditanya usulan berita, saya jawab belum punya. Karena nggak mudeng tadi, hahaa. Saya udah baca-cara isu terhangat sih buat rapat kompartemen. Saya bikin catatan-catatan buat persiapan. Sayangnya, itu masuk ke nasional dan hukum.
Pait! Pait! Pait! Semoga nggak ditempatkan di Ekonomi. Amin... Eh khusus yang ini off the record aja ya jangan bilang-bilang ke orang. Sttt, diem-diem aja daripara dipecat, hahaha
Berita-berita apa yang akan dimunculkan untuk edisi minggu depan merupakan hasil rapat itu, bukan keputusan satu orang yang paling tinggi jabatannya.
Ah, tuh kan! Lagi-lagi bersyukur punya lingkungan kerja yang asyik banget :D
Oh ya, tulisan ini merupakan curhat saya di hari keempat masuk kelas belajar. Kesannya hepi-hepi gitu ya jalannya. Ya emang, orang masih kelas belajar. Nggak tahu deh kalau udah dikasih penugasan untuk meliput.
Denger-denger sih suasana sering tegang menjelang deadline terbit majalah. Terus redaktur kadang mendadak galak kalau materi liputan kurang atau gagal nembus narasumber.
Oh ya, saya udah bikin sidik jari buat masuk ruangan-ruangan di sana lho. Ada nomor induk karyawannya juga. Berarti udah sah kan ni jadi jurnalis di sana? Hahahaa, girang banget! Sama noraknya kaya pas lihat sebuah meja kerja kosong bertuliskan nama: Putri Kartika Utami.
Asli seneng banget. Ciyusan mi apa aja deh :D
Senin, 20 Januari 2014
Pilihan Hidup
Bakalan keseret-seret. Bakalan jadi tukang nyontek. Bakalan menggantungkan nilai-nilai rapot saya pada kemurahan teman yang rela kasih contekan.
Tidak ada orang yang jenius di semua bidang. Ketika kamu tidak bisa melalukan sesuatu, selalu ada orang lain yang bisa melakukannya untukmu.
Kamis, 12 Desember 2013
Dogmatis
Rabu, 11 Desember 2013
My First Interview : Outfit
1. Jurnalis
2. Pemilik travel agent
3. Relawan di konservasi terumbu karang, orang utan, panda, penyu dll.
Saya akhirnya menentukan mau pakai apa untuk wawancara siang nanti. Dengan atasan kemeja bekas kakak yang warnanya baby pink, jilbab pink tua punya adik saya, celana bahan warna abu-abu bergaya santai dan sepatu plastik warna coklat! Baru sadar kalau saya nggak punya flat shoes. Adanya flat shoes plastik :p
Saya menangkap sosok lelaki kurus, berkacamata, memakai kemeja biru dongker motif garis horizontal, celana bahan, berkaus kaki dan pakai sepatu kantoran. Untung saja sepatunya nggak disemir sampai kinclong pake sunlight :p
Minggu, 24 November 2013
Rindu, Nama Rasa Kurang Ajar Itu
Hanya itu yang terucap ketika saya berhasil merajai perasaan yang kacau-galau. Ibu diam saja. Dia seorang penerka yang hebat karena itu adalah respon terbaik yang saya inginkan. Saya tidak mau nasihat. Saya tidak mau pelukan. Saya tidak mau belaian di pundak, ataupun kepala. Itu akan membuat saya semakin tidak bisa mengontrol diri. Saya cuma mau dia tahu saya baik-baik saja.
Sabtu, 26 Oktober 2013
Move On di Tempat
Nyari pacar baru tapi yang apa-apanya mirip mantan itu judulnya move on di tempat. Ibarat kursi goyang nenek. Emang pindah sih gerak maju-mundur, tapi yaaa di situ-situ aja :)
Eh!
Selasa, 22 Oktober 2013
Suatu Malam di Rumah Sakit (2)
Emah, nenek saya masuk rumah sakit lagi. Dia meminta untuk dirawat di rumah sakit yang berbeda dari yang sebelumnya. Keinginan itu dituruti anak-anaknya karena Emah sedang mudah marah. Ganti dokter, ganti obat dan rumah sakitnya tidak lebih bagus. Tak apa yang penting Emah sehat.
Ketika masuk, bibi saya memesan kamar kelas 1. Sayangnya penuh, pun begitu dengan kelas 2. Terpaksa Emah menginap di kamar kelas 3 sampai ada pasien di kelas 1 yang keluar.
Seperti biasa, ibu kebagian jaga malam. Ya memang hanya ibu saya yang memungkinkan karena cuma beliau yang single fighter dan tidak punya anak kecil. Saya tentu saja harus menemani ibu. Misalnya dia tidak minta pun pasti saya ikut menginap untuk memastikan ibu makan dan cukup istirahat.
Mengingat pengalaman sebelumnya, Emah itu banyak maunya. Minta dipijat, dibalur balsem, dikipasi, ditabur bedak, diusap, kasur dinaikkan, dilap air hangat, minta susu de-el-el. Saya kasihan sama ibu, jadi mau saya bantu. Tapi yang terjadi keseringan saya tidur pulas :D
Manfaat keberadaan saya dipertanyakan selain sebagai ojek dan pengingat makannya ibu.
Tadi kami berangkat setelah magrib. Sesampainya di rumah sakit, saya dan ibu agak kaget mengetahui satu ruangan berisi 10 kasur! Kirain kelas 3 itu ditempati 4 pasien. Maklum sih ini kelas ekonomi. Sebenernya yang bikin kesel itu keadaan ruangan lebih mirip pasar daripada rumah sakit. Pasiennya satu, yang jaga se-RT.
Luas ruang untuk satu pasien sekira 2x3. Dikira-kira itu juga soalnya saya ga bawa meteran, hehe. Pokoknya sempit, hanya cukup kasur dan kursi lipat. Setiap ruang disekat dengan tirai. Jadi ya bunyi-bunyian dari kasur tetangga kedengaran.
Di depan terdengar suara Nike Ardila bernyanyi dari handphone, sengaja diloud speaker! Masih dari depan, terdengar tawa wanita yang ditahan-tahan agar tak terlalu keras. Di pojok dekat kamar mandi terdengar rumpi para lelaki yang tidak berusaha memelankan suaranya. Anak-anak berkeliaran. Teriakan dan tangisan mereka menambah "semarak" suasana.
Duh gusti, kok pada girang amat nginep di rumah sakit? Ini bukan tempat rekreasi keluarga kan ya?
Harus sering bilang permisi sambil tersenyum sungkan setiap mau ke kamar mandi atau keluar ruangan. Pasalnya para keluarga pasien "bergeletakan" di depan kamar mandi dan pintu keluar yang memang menyisakan ruang yang cukup buat tidur terlentang. Daripada tidur di jalan-jalan, saya mending begadang.
Malam ini sepertinya tidak akan bisa tidur. Sepertinya sih, tapi nggak jamin saya kuat melek semalaman. Soalnya di RS yang lama juga saya bilang bakalan susah merem tapi yang terjadi saya selalu berhasil bobok anggun di atas karpet yang keras :D
Sekitar jam 8 malam, pasien di samping kiri pulang. Kasurnya kosong. Waaak! Alhamdulillah, makasih ya Allah. Inikah kado buat anak sholehah yang berbakti pada orang tua? Tenang, tenang... anak sholehah yang dimaksud itu ibu, bukan saya.
Sudah jam 9 malam dan suasana hingar bingar mulai mereda. Pada cepat bobok yak semuanya biar besok nggak telat bangun pagi. Semoga cepat sembuh, Mah :)
Rabu, 02 Oktober 2013
Suatu Malam di Rumah Sakit
"Hmmm... Aromanya menggal banget setajam kapak! Hahaha"
Kalau mau jujur sih saya lebih suka wangi yang jadoel itu sih, tapi....
Tidak, tidak... saya adalah anak muda generasinya Agnes Monica. Saya pilih yang aromatherapy deh daripada dibilang berselera aki-nini :D
Bahas apa lagi ya? Nomor kamar sudah, minyak angin juga sudah. Duh! Ibu saya semakin terlelap, begitu pun nenek saya. Suasananya hening. Hanya sesekali terdengar langkah kali di luar kamar. Dugaan saya, mungkin itu suster yang sedang jaga malam. Tapi saya tidak memastikan kebenaran hal itu. Bukan karena takut lho ya, tiba-tiba pas saya melongok keluar, tahu-tahu susternya ngesot, bukan melangkah. Malas saja. Untuk apa nongkrongin orang yang lewat? ku-rang ker-ja-an *melambaikan tangan ke kamera*






