Senin, 19 Juli 2021

Jarak


Saya pernah bilang saya jenuh dan ragu-ragu
Lalu meminta waktu dan jarak
Tapi tidak selamanya, tidak sejauh ini
Rupanya sayatan luka itu dalam
Ia menutup semua jalan


Kalibata, saat iduladha 2021

Senin, 27 Januari 2020

Bebal

Ada masa-masa saya merasa, inilah jalannya. 
Yakin betul tanda-tanda itu.
Setiap kali mendekat, kondisinya memberi jarak.

Bukan sekali saya kecewa, memutuskan pergi.
Lalu, situasi kembali meruapkan harapan.
Lalu, optimisme itu kembali datang.
Lalu, menghilang.
Lalu, saya patah hati.
Berkali-kali sudah.
Tiada kapoknya juga, ya?

Salah sendiri, bebal menerima pengalaman.

Minggu, 01 Januari 2017

2017

Janji mau rutin nulis di sini tinggal janji. Dari Juni 2016 ke Januari 2017 ada berapa purnama tuh? 😁

Kalau nurutin denda Rp 50 ribu setiap nggak nulis kaya di tulisan sebelumnya, mungkin hasilnya bisa buat DP mobil. Ok, lebay. Nggak sebanyak itu sih. Uang muka mobil-mobilan mungkin cukup. Parahnya, itu denda nggak pernah ditunaikan 🙈

Nah, mumpung ada momentum tahun baru, tekad seminggu satu tulisan mau digaungkan lagi. Cuma nggak usah pake denda kali ya, da matak mubazir bikin aturan cuma buat dilanggar.

Dicoba lagi seminggu satu tulisan. Minggu depan gagal, masih ada minggu depannya lagi dan minggu-minggu berikutnya. Kikituan weh sampai Anggun mau jadi duta shampoo lain 😂

Semoga 2017 ini passion nulis balik lagi. Baik lagi.

Kamis, 09 Juni 2016

Ikrar!

Dia bukan penulis. Dia teknisi. Dia punya blog. Memuat apa saja. Dari perkara politik, agama, masakan hingga pelesiran. Catatan terakhir si teknisi tentang rumus fisika. Barangkali kehabisan ide tapi maunya tetap menulis. Mungkin...

Menurut saya, tulisannya payah. Tidak menarik. Tapi dia menarik.
Jujur, saya lebih payah. Saya sekolah jurnalistik dan bekerja di industri media massa. Punya blog pribadi. Sepi isi. Mati suri. Parah lah.

Ini otokritik sebenernya. Biar punya semangat go-blog. Tapi ya, saya mah jelemana kitu. Waregahan. Beda sama dia. Nggak apple to apple lah membandingkan kami. Dia mah Ksatria Jedi, with a strong force. Idola umat sejagat raya. Saya mah naon atuh, cuma bubuk opak nu katincakan suku jamaah. Hanya bukur. 

Terus maneh rek nepi iraha hanya menjadi bukur, Put? 

Nggak tahu kenapa belakangan saya kurang gairah untuk bikin tulisan baru. Ide mampet, nggak sempet, alasannya begitu padahal males. Semenjak jadi wartawan, menulis nggak lagi jadi aktivitas asyik. Malah nggak produktif. Yang ditulis di blog ini cuma hal remeh temeh yang nggak butuh mikir padahal.

Mungkin karena keseringan nulis berita, saya jadi kurang antusias bikin cerita. Pas memulai, bawaannya berasa lagi bikin berita dan ditungguin redaktur gitu, hahaha. Suasana imajiner yang menyebalkan, jadi aja gagal eksekusi.

Halah, alasan!
Baiklah, mari perbaiki diri. Mulai sekarang, tanggal 9 Juni 2016 saya berikrar kembali bikin tulisan di blog. Minimal satu tulisan dalam seminggu. Kalau melanggar, tentu ada hukumannya biar disiplin. Harus bayar Rp 50 ribu kalau seminggu nggak nyetor tulisan.

Eh tunggu nanti bayarnya ke siapa?
Ya ke celengan saya sendiri lah. Kalau uang hasil tindakan indisplinernya udah nggak muat masuk celengan, bika bongkar tabungan sanksinya. Hasilnya dipake buat nonton, makan atau membiayai kegiatan hedon lainnya, hahaha.

Tah, postingan nggak penting teh yang begini contohnya. Bisa kan? Gampang kan? Awas kalau minggu depan membleh! Bayar!

Kamis, 17 September 2015

Deadline

Setiap Senin dan Selasa, saya bawaannya pengen resign terus. Dua hari ini adalah deadline reporter di media tempat kerja saya.

Majalahnya sih emang terbit setiap Kamis. Cuman kan redaktur harus nulis berita dari laporan-laporan reporter. Terus ada proses editing naskah, lay out sampai dicetak. Semuanya udah terjadwal biar bagian sirkulasi bisa mendistribusikan majalah ke agen maupun langganan pada Kamis subuh.

Jadi, kalau misalnya ada kejadian heboh yang mengguncang dunia persilatan pada Selasa sore, itu masih mungkin dikejar. Ada kelonggaran kalau isunya penting banget. Tapi kalau kejadiannya Rabu atau Kamis, ya wassalam. Moment itu lewat saja karena naskah udah di percetakan.

Rabu, saya cuma rapat perencanaan di kompartemen masing-masing, setiap pukul 11 siang, yang pada kenyataanya selalu molor karena pada kesiangan :D

Beres rapat, kegiatan bebas bagi reporter. Yang rajin, mungkin menghadiri undangan atau agenda yang dia minati. Yang males, ehm-macemsayah, melakukan aktivitas lain di luar kerjaan kantor. Istilah budak sakola mah mabal, hahaha.

Para redaktur, yang rajin, udah mulai riset-riset berita untuk bahan penugasan buat reporter. Yang belum mulai bikin, bukan berarti tidak rajin. Barangkali ada kesibukan lain, haghaghag.

Kamis dan Jumat, para reporter masih magabut KECUALI bagi Si Rajin dan Si Kurang Beruntung. Ini cuma kategori asal yang saya bikin sih. Yang rajin ya itu tadi, mereka yang gemar menghadiri undangan-undangan media itu tadi. Yang kurang beruntung adalah para reporter apes yang kebagian vel awal atau laporan yang deadlinenya Jumat siang. Siyal, pekan ini kami dapat makanya kami curhat begini.

Ilustrasi Detlen ini dari sini

Jadi, di redaksi itu ada tiga kompartermen: Nasional, Ekonomi dan Hukum.Saya lagi di Nasional. Liputannya soal isu nasional, yang keseringan tentang pulitiks. Isu beginian masuknya File Tengah, deadlinenya Senin-Selasa DURJANA.

Tapi ada lagi vel awal, yang penugasannya turun Kamis terus deadlinenya juga Kamis, atau mentok-mentoknya Jumat pagi. File ini kudu beres cepat karena disetor duluan ke percetakan biar ga pak-pik-pek sama naskah-naskah rubrik wajib.

Di Kompartemen Nasional, vel awalnya itu semacem rubrik lingkungan, pendidikan, agama, seni, film, resensi buku. Nah, saya beruntung jarang kebagian. Walhasil, kalau Kamis-Jumat saya lebih sering terlihat menghabiskan uang di tempat jajan daripada liputan :P

Eh tapi dulu saya sering resensi buku lho. Datengin acara launching atau diskusi buku, terus ditulis. Rajin kan?

Ya, ya, itu dulu pas awal-awal dipindahin dari Hukum ke Nasional. Sekarang, berharap saya rajin kaya dulu itu ibarat pepatah mah jauh panggang dari api. Hiks...

Lagi detlen kok sempet-sempetnya curhat? Kamu bohong ya bilang kebagian vel awal?

Nggak, beneran kok saya dapet penugasan soal pendidikan. Narasumbernya dua. Yang satu sih udah tembus. Ini lagi nungguin yang satunya lagi, yang nampaknya sedang sibuk sekali. Karena kalau lihat percakapan sms kami, saya seperti sedang bermonolog:

"Pak, saya Putri dari majalah X. Mau tanya soal bla bla bla ke Bapak. Ada waktu untuk ketemu? Terimakasih :) "
 
"Pak gimana wawancara soal itu, kira-kira kapan saya bisa ketemu Bapak"

"Pak, kalau tidak memungkinkan ketemu, boleh wawancara via telepon? Atau ada rekomendasi narasumber lain? Deadline saya malam ini :D "

Saya hampir pengen sms, "Pak? Pak? Bapak mati ya?"

Untungnya nggak jadi karena Si Bapak Dirjen di Kementerian X itu bales irit, "Ya boleh."

Vel awal itu deadlinenya pendek. Dari pelajari isu, lobi narasumber sampai dibikin laporan, waktunya sehari atau ada tolerasi sampai Jumat pagi, sebelum Jumatan. Masalah lain soal narasumber. Mereka itu unpredictable responnya.

Kadang, yang kita pikir gampang, taunya susah. Narasumber yang kita udah suuzon nggak bakalan tembus, taunya sangat responsif. Ada yang kata orang, wah dia mah gampang dan orangnya baik banget, tapi pas kita dihubungi kok dicuekin. Ini rasanya hina dina banget, "Masa dapet dia aja nggak nembus, gue pernah ke dia, gampang kok." Duh, menyakiti sanubari banget!

Ya gitu deh kerjaan saya: nggak jelas. Mirip kelakuan yang lagi nulis ini. Yang jelas, meskipun keinginan "gue mau resign!" sering muncul, saya nggak pergi-pergi. Nggak beneran bilang mau cabut.

Ooh, inikah namanya cinta? INIKAH? INIKAH?

Kamis, 10 September 2015

Hemat

Bukan cuma Jokowi yang punya paket kebijakan soal ekonomi. Saya, Kakak Flora dan Teh Birny sudah bikin dari sebulan lalu.

Sebulan lalu, di sebuah resto masakan Jepang, kita dapet hidayah untuk menjauhi hidup boros yang kita jalani: ngemall, jajan, nonton, ngetrip, berenang, karaoke, ke salon (yang ini saya ga ikutan) de-el-el.

Gimana ya, lingkungan mendukung juga sih. Mall sama apartemen letaknya cuma selemparan batu dari kantor. Jam kerja, fleksibel. Maka, kita sepakat menjalankan tight money policy alias kebijakan pengetatan uang. Caranya, mengurangi peredaran uang kita di penyedia barang dan jasa.

Nggak cukup mengurangi aktivitas hedonis, layaknya orang bener, kita bahas soal investasi. Dari bikin tabungan baru khusus nimbun duit, reksadana, arisan, investasi emas, properti dll.

Bismillah...

Semenit pasca ketok palu, kita merasa perlu karaokean :D
Tuh kan, di awal aja udah ketahuan penghematan ini cuma wacana yang mengawang-awang di langit ke tujuh. Ketinggian, karena langit kamar pun tangan tak mampu menggapai.
Dasar lemah iman!
 
Dua minggu lalu, hari itu belum ada kerjaan. Posisinya, saya lagi beli jus deket kantor. Bingung mau ngajakin siapa yang mau mabal saat hari dan jam kerja. Pilihannya ya cuma sama manusia dari kantor sendiri. Da kantor batur mah kerja teh beneran. Teu bisa mabal-mabal jiga kami.

Saya telepon Teh Birny. Doi lagi di mall, riset harga tv. Pilihan nyamperin dia adalah opsi yang saya tahu salah banget.

But I did.

Baru masuk mall, Kakak Flora nelepon nanya lagi di mana. Ternyata dia juga lagi di mall.

Ini sungguh petaka!

Di meeting point, saya mengingatkan soal kebijakan pengetatan uang dua minggu lalu. Biar terlihat konsisten, padahal saya menggoda mereka biar mau nonton pilem :D

Flora lagi butuh karaoke banget, sementara Teh Birny bilang laper. Petaka benar-benar terjadi. Semua resolusi hedon itu kita tindak lanjuti, kecuali nonton karena lagi nggak ada pilem yang menarik.

Pulangnya, saya mengutuki diri di depan mereka. Bilang kalau kebersamaan ini sungguh tidak baik bagi finansial saya. Ekonomi jadi melambat. Kemarin, saya baru berenang sama Mira dan Nufus. Weekend nanti, mau ke Bandung bareng keluarga. 

Dipastikan ini mah akhir bulan bakalan ngindomie terus. Kabar baiknya di kolong maja ada tiga dus Indomie rasa kari ayam, soto dan mie goreng. Sembako lebaran dari kantor. Lumayan kan tiga varian mie buat tiga waktu makan. Hiks...

Saya perlu cerita karena kemarin kita ngemall lagi. Sok-sok-an bosen makan di warteg dan lagi mau jajan pasta. Kelar mengisi perut, saya ngajak karaoke.

Subhanallah, keduanya menolak!

"Inget kesepakatan kita kemarin," gitu katanya.

Rupiah-rupiah di dompet terselamatkan. Tapi cuma sebentar karena Teh Birny ngajakin mampir ke hypermart. Deja Vu. Aroma petaka meruap, "Pulang sana duluan. Jangan ikut!"

Kaki saya merespon bisikan ghaib itu dengan melangkah pergi. Tapinya ke belakang Teh Birny, yang sudah nenteng keranjang belanjaan. Di sisinya ada Kakak Flora.

Duh gusti, semoga saya diampuni!

Jumat, 21 Agustus 2015

Begadang

Benar, begadang itu nggak bagus buat kesehatan. Bukan cuma fisik, tapi juga psikis.

Lho, emang bisa?

Bisa dong!

Misalnya pas tengah malam kamu susah tidur, terus pelarianmu adalah gadget. Karena nggak jelas apa tujuannya, kamu buka apa saja. Klik acak. Klik asal. Termasuk hal yang nggak-nggak. Awalnya iseng, lalu keterusan. Kecanduan. Yang pas dibuka bikin kamu sakit hati. Yang pas dibuka, bintang-bintang di atas sana meredup. Berduka untukmu. Menyayangkan ketidak sengajaanmu.
***
Baper amat! Syanah boboks!

Yang Terlewatkan


Sekarang terlambat, kan?

Terlalu banyak yang harus digali saat yang dicari sudah sedemikian dalam. Cerita-cerita itu berlalu begitu saja, tanpa menyertakan saya. Dan di sini lah saya. Gagap dalam kaget. Gugup menerima kehilangan. Saya kalah banyak.

Jeda hari ini cukup panjang. Saya menengok belakang. Lumayan lama. Ternyata banyak hal terlewatkan. Sangat banyak. Sementara saya asyik masyuk berjalan maju. Bahkan, lupa lirik kanan-kiri. Hanya untuk memastikan saya tahu, setidaknya sekadarnya. Seharusnya begitu.

Minggu, 30 November 2014

Marah

Sedang ingin marah-marah.
Kamu tidak bohong. Hanya menyembunyikan kebenaran. Dua hal yang saya anggap berbeda.
Lalu, apa dalil untuk melegitimasi kemarahan saya?
Bingung sendiri.
Gulungannya sudah di ubun-ubun. Yang menahan luapannya, hanya ketiadaan alasan. Butuh landasan biar marah-marahnya sah!
Kamu tidak bohong. Hanya menyembunyikan kebenaran.
Kalau sudah begini, saya harus bagaimana?
Karawang, 30 November 2014

Selasa, 04 Maret 2014

Transkrip

Awalnya, saya ngetik ini buat ditulis di pesbuk. Tapi panjang banget. Udah 100% selesai, saya cut ke blog *klarifikasi ga penting*

---

Pengen nge-blog, nulis apa aja yang dialamin sehari-hari. Pengen tinggal pengen.

Pas inget harus nulis berita yang ditugasin, niat 'meramaikan' blog -yang entah ada yang baca entah ga ada selain penulis- cuma sekedar niat.

Apa tadi? Nulis berita?
Bikin transkrip wawancara yang kemarin aja belom.

Durasinya 58 menit. Kemarin sempet nyicil sampe menit ke 21. Itu aja udah 6 lembar, soalnya si narasumber termasuk orang yang bicaranya cepet, padet, sesek, penuh!

Tipe pemberi informasi yang baik untuk pemenuhan gizi kepala, tapi ga baik untuk kesehatan jari-jari. Bikin kriting. Cangkeul!

Soal transkrip, beberapa teman saya masang target: narasumber dibatesin ngomongnya cuma 30 menit. Maksimalnya segitu. Biar jempol, telunjuk dkk ga kaku-kaku gegara kebanyakan nari di atas keyboard, hihiii

Apes, cicilan transkrip itu raib pas besoknya saya nyalain komputer. Kelakuan kompi saya emang suka error. Mungkin gara-gara faktor U, bisa juga emang itu kompi banyak gaya. Hobi bertingkah. Kadang nge-hang, kadang lemot.

Berarti besok bikin transkripnya dari awal lagi dong?

Such a stupid question! It's a must!

Baiklah, baiklah...

Terus ya, pas udahan wawancara, si narsum yang notabene seorang pejabat di Kementerian A, membekali saya dengan segepok dokumen.

Ada notulensi rapat, data-data statistik, surat rekomendasi ke Kementerian B dan C yang berkaitan dengan isu yang saya garap.

Belum lagi 'bonus' salinan Peraturan Menteri (permen) B dan C yang nyambung sama topik bahasan. Isi permennya banyak pasal-pasal. Nambah-nambahin derita hati aja >.<;

Ini soal impor komoditi X (maenannya pake kode-kode mulu sik?). Si narsum menyarankan saya bertanya ke bea cukai soal dokumen impor apa yang dipakai untuk mendatangkan barang X ini.

Doi aneh deh! Masa soal dagang-dagangan sama negera lain, disuruh nanya ke cukai?

Bukankah cukai itu sejenis penyedap rasa makanan yang sering ditambahkan ke kuah bakso atau asinan? *lalu disambit pake gerobak bakso*

Sumpah, banyolan di atas garing abis! Nggak lucu ya?

Ya udah. Lupain.

Mungkin saya lelah. Mungkin saya mulai lapar. Nenek bilang, "makan dulu, sana!"

Bukannya ke meja makan, saya malah nyari ayam-ayam. #apaansih #lawakanculunmaksimal

Ini udah sebulan lebih 4 hari saya kerja di sini. Perkembangan terbaru, saya masih betah menjalaninya :D

Ngantuk. Tidur ah. Transkripnya ntar tengah malem. Diniatin melek. Tanda keseriusannya dengan masang alarm.

Ka-lau-ba-ngun-i-tu-ju-ga.

Pas kepala nempel di bantal, kesadaran ilang total. Kuping mendadak budek. Bangun-bangun rusuh :D

Sekian.
Selamat malam!

Kamis, 13 Februari 2014

Being a Journalist

Super late post. Kelamaan jadi draft. Tapi kalau dibuang kan sayang. Ini dibuat akhir November 2013...

***

Hampir Desember!
Berarti saya harus mulai melamar pekerjaan lain karena kontrak kerja saya habis per 1 Desember ini. Saat ini, saya bekerja sebagai “kacung” pemerintah dalam program bantuan untuk para petambak garam. Asli, kerjaan ini nggak nyambung banget sama minat saya maupun latar belakang pendidikan saya.

Kok bisa?
Teteh saya bilang, saya beruntung mendapatkan pekerjaan ini. Yes, how lucky yet stupid I am! Kata Teteh, orang lain berebut untuk mendapatkan posisi saya sekarang tapi saya tidak betah dan ingin masa kontrak cepat berakhir.

Sebenarnya gaji saya lumayan, waktu kerja juga fleksibel. Pokoknya kerjanya enak banget. Cuma hati saya kan nggak di sini.

Eaaaah! Lebay tak terkira :p
Eh tapi beneran lho hati saya nggak di sini…
Bergelut di dunia tulis-menulis merupakan cita-cita dari SMP. Waktu anak-anak lain mau jadi dokter, presiden, polisi atau artis, saya mau jadi penulis. Dulu sih saya belum tahu jadi penulis apa: penulis buku, penulis berita, penulis diary atau penulis di kelurahan a.k.a juru tulis :D

Dari SD saya terbiasa nulis diary karena waktu saya SD belum ada Mamah Dedeh buat dicurhatin, jadi saya cerita di diary, hahaha.
Pas SMP saya bergabung di ekskul majalah dinding (mading). Setahun ikutan mading, saya didapuk jadi pemimpin redaksi di tahun kedua. Pengangkatan saya jadi ketua merupakan “persekutuan jahat” para senior di ekskul itu. Bukan karena saya pilihan terbaik, tapi karena nggak ada pilihan ^_^;

Padahal saya sengaja nggak mencalonkan diri dan absen saat rapat pemilihan pemimpin redaksi yang baru. Ya nggak Pe-De aja jadi leader, nggak ada bakat.

Di bawah kepemimpinan saya, format mading berubah. Malahan namanya juga berubah-meskipun akhirnya setelah saya lengser, nama madingnya kembali ke nama yang lama. Ada beberapa rubrik baru biar papan mading terisi full oleh karya. Awalnya sih semangat 45, lalu mading itu mandek, hehehee.

Sewaktu duduk bangku SMA, saya mengikuti ekskul karate. Sebenarnya di sekolah ada mading, cuma ya dikelolanya oleh anak OSIS. Itupun informasi yang dibagi seputar kegiatan OSIS yang kurang up to date.

Dan masa ketika memakai seragam putih-abu ini lah saya membulatkan tekad untuk menjadi seorang penulis berita. Pencari berita maksudnya. I wanna be journalist! Gara-garanya sepak bola.

Ya, pas SMA saya keracunan virus gila bola dari teman-teman. Meskipun nontonnya Liga Inggris, Liga Champions sama Piala Dunia doang. Itu juga kalau klub-klub besar yang tanding. 

Rasanya iri banget melihat wartawan olahraga Indonesia yang dikirim untuk meliput laga-laga internasional.
Mauuuuuu! Apalagi mereka punya kesempatan buat nonton lebih dekat, dari pinggir lapangan. Belum lagi pas konferensi pers bisa lihat para pemain dan pelatih dari deket banget!

Aaaak, I-RI A-BIS!!!

Sungguh ini alasan yang bodoh…
Ball boy, pemotong rumput stadion dan OB di kamar ganti pemain adalah profesi yang lebih baik dikejar kalau tujuannya melihat pemain-pemain favorit dari jarak dekat, ya kan? Iya kan?

Semenjak itu saya mulai mencari kampus-kampus yang menyediakan jurusan jurnalistik. Saya mengikuti tes masuk di universitas dan akhirnya terdampar di salah satu kampus yang dulunya bernama IAIN di Ciputat. Sebut saja kampusnya UIN Jakarta, bukan nama sebenarnya :D

Menurut info, saya dan anak-anak jurnalistik 2008 adalah generasi ke-5. Artinya, jurnalistik di UIN itu masih bayi dan belum “ajeg”. Selain di UIN, saya diterima di salah satu politeknik negeri di Bandung jurusan sastra Inggris.

Cuma saya mempertimbangkan minat saya condong ke mana. Biaya kuliah yang murah pun jadi alasan kenapa saya milih UIN, soalnya ibu saya single fighter yang ketiga anak perempuannya masih sekolah. Lagian masa ngambil yang di Bandung, masa belajar sastra Inggris di sekolah teknik?

Karena masih seumur jagung, fasilitas yang saya seringkali nggak memuaskan. Misalnya dosen pengajar mata kuliah jurnalistik yang berpengalaman sebagai jurnalis masih sedikit. Bisa dihitung jari.

Kadang agak kecewa aja kalau tahu dosen pengajar mata kuliah jurnalistik, komunikasi massa dll, nggak pernah berprofesi sebagai wartawan.

Soal latar belakang pendidikan sih nggak masalah. Banyak wartawan-wartawan hebat Indonesia yang background pendidikannya bukan jurnalistik. Tapi kalau pengalaman kerja di media massa, menurut saya harus dimiliki setiap dosen pengajar jurnalistik.

Bagaimana mana bisa seorang mengajarkan cara menjadi seorang jurnalis yang baik sementara dia tidak punya pengalaman apapun di dunia kerja pers? Ibarat belajar soal wirausaha, tapi pengajarnya bukan enterpreneur. Kurang afdol.

Selama menjadi mahasiswa saya aktif sebagai reporter. Bukan di Lembaga Pers Mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan kampus, justru saya menjadi reporter yang menyuplai berita bagi website resmi universitas. Tugasnya meliput kegiatan kampus maupun mahasiswa untuk mempromosikan universitas saya. Ya semacam media-media pada masa Orde Baru lah: menjadi mitra dan corong pemerintah :p

Saya paling suka meliput kegiatan-kegiatan UKM daripada kegiatan pejabat kampus. Terutama UKM pecinta alam dan pecinta lingkungan. Oiya, enaknya punya ID card pers itu saya bisa leluasa masuk ke acara-acara yang berbayar secara GRATIS, hahaha.

Eh, tapi sialnya juga ada. Pernah saya ditugaskan meliput seminar matematika nasional yang diikuti para guru matematika seluruh Indonesia.

Kampret!
Saya terjebak seharian membahas angka-angka, rumus dan metode mengajar. Seharian!
Pemimpin redaksi sama redaktur pelaksana nggak terenyuh hatinya ketika saya menolak tugas liputan ini, walaupun saya berdalih selama SMA saya menyontek mata pelajaran itu dari teman. Tiga tahun full! Jawaban-jawaban di buku tugas matematika saya sepenuhnya karya teman, kecuali soal karena itu buatan guru matematika atau penulis buku paket :p

Malsuin Surat Magang
Fakultas berhenti menerbitkan surat pengantar magang buat mahasiswa tepat ketika saya di semester 4. Liburan semester yang cukup panjang, tadinya saya niatkan untuk magang di media besar tidak terealisasi gara-gara itu. Sempet protes protes ke sekretaris jurusan. Bagusnya kan mahasiswa jurnalistik itu harus praktek di lapangan, bukan cuma mendengarkan teori di kelas. Tapi itu sudah kebijakan fakultas, katanya.
Saking pengennya magang, saya membuat surat pengantar palsu. Sayangnya ketahuan pas minta cap ke TU. Pegawai TU itu memarahi saya, padahal surat itu saya simpan di tengah, di antara berlembar-lembar surat aktif kuliah biar tidak terdeketksi, hehehe (don’t try this at home).

Bagusnya, saya lihat dari tahun ke tahun jurusan saya yang masih bayi ini berkembang lebih baik dengan bertambahnya umur, biaya SPP dan mahasiswa :-D
Balik lagi soal magang. Akhirnya keinginan untuk praktek kerja di media itu terpenuhi sewaktu mengerjakan skripsi. Berbekal surat penelitian, saya mewawancarai Pak Johan, produser program in-depth di statiun TV swasta. Sebenarnya bahasan skripsi saya tidak perlu magang, cukup wawancara saja.

Hari itu saya berangkat diantar teman untuk wawancara sambil membawa CV dan foto dengan niat minta dibolehin magang. Kalau ditolak mau maksa :D
Sesi tanya jawab dimulai. Di akhir wawancara, saya ragu-ragu mengutarakan niat magang. Saya hampir berpamitan setelah mengakhiri tanya jawab, sampai Pak Johan melontarkan pertanyaan, “kamu nggak mau magang?”
Saya sontak menjawab mau. Nggak lupa saya ceritakan sebenarnya saya sudah membawa CV dan foto untuk melamar. Akhirnya dia meminta berkas-berkas saya untuk dia serahkan langsung ke HRD. Dua hari kemudian saya dipanggil untuk mulai magang. Cihuy!
Sebenarnya, kisah akhir skripsi saya bukan membahas berita di program itu. Saya harus ganti objek penelitian karena alesan tertentu. Penelitiannya gagal. Skripsi saya buat dari awal: dari bab niat dan diikuti bab turunannya.
Kata teman, saya rugi banget. Udah magang sebulan tapi penelitiannya gagal. Tapi saya merasa nggak demikian. Justru ngerasa beruntung menjadi anak magang di program investigasi. Saya ikut serta melihat para reporter meriset, menelusuri fakta dan teknik membuat narasumber agar mau berbicara.

Saya bertemu macam-macam narasumber dari yang banci kamera sampai yang benci kamera. Saya juga sempat melihat istri pejabat desa terdakwa korupsi nangis-nangis, agar gambar suaminya tidak ditayangkan dan kasusnya tidak diangkat ke masyarakat luas.
Sebulan magang itu juga saya bisa keluar masuk gedung DPR, kementerian dan bertemu orang-orang yang sebelumnya hanya saya lihat di tv. Kalau untuk yang terakhir nggak bangga sih, cuma jadi tahu aja bagaimana orang itu bertindak dan berbicara ketika kamera belum menyala.

Pengalaman seperti itu mahal harganya buat saya, karena tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Untuk semua pengalaman itu, saya harus mengucapkan terima kasih sama Pak Johan :D

Si Item

Asli, saya ngakak begitu liat gambar ini di Facebook. Langsung klik kanan, save! Harus dibikin catetannya nih di blog :D

Kenapa gambar ini lucu?
Gambarnya menjelaskan beda tas cewek dan cowok. Kesannya kaum hawa itu ribet banget soal tas. Tiap acara pake tas yang beda-beda.

Kalau ngeliat jenis kelamin sih, saya tergolong kelompok yang kiri. Tapi kalau liat jenis tas yang dipakai...
Mutlak, saya termasuk yang kanan (^_^);

Yup! I always use the same bag for any ocassion! Lol...
Kuliah, ke mall, ngantor, maen, nongkrong, ke pantai, piknik ke luar kota, sampai naik gunung, ya tasnya yang itu-itu juga.

Namanya si item. Baru dikasih nama pas catetan ini dibikin. Biar kesannya akrab dan punya panggilan sayang :D

Warnanya item. Full black. Cuman ada garis pink vertikal di bagian samping tas, selebar 1 cm. Tasnya simpel, kaya yang manggulnya.

Am I that simple? Oke, oke, kadang suka rusuh sendiri sih. Puas?

Ini Lho tersangkanya! Penampakan Si Item
Si item udah menemani saya selama hampir lima tahun. Dari 2009 kayanya, atau 2008 akhir gitu deh. Setia banget doi. Mau aja digembol ke mana-mana. Pernah dibawa nginep di hotel bintang lima, sampai nginep di hotel yang bintangnya nggak terhingga alias di alam terbuka :D

Kita pernah muncak di tiga gunung: Gunung Gede, Guntur dan Papandayan. Padahal doi cuma daypack, buka tas gunung. Demi loyalitas, dia mau aja ikut nanjak. Nggak nolak. Nggak minder sama tas-tas lainnya yang segede kulkas waktu dijejerin sama tas pendaki lain.

Si Item juga yang nemenin saya backpacking pertama kali. Waktu itu ke Jogja. Naik kereta ekonomi seharga Rp 35.000 dari Senen ke Lempuyangan. Keretanya sungguh tak beradab. Di bawah kursi saya ada yang tidur memanjang, jadi risih. Pria-pria yang duduk di hadapan saya juga bikin takut. Saya peluk kenceng-kenceng si Item.

Sering banget punya pengalaman pertama sama si Item.Pertama kali ngerasain interview kerja. Hari pertama masuk kerja yang segalanya masih terasa canggung. Pertama kali coba piknik ala backpacker dan pertama kali naik gunung, kaya yang udah disebutin sebelumnya. Sama si Item, saya thawaf mengelilingi Kabah. Di dalam perut si Item, saya simpan air zam-zam untuk diminum ketika haus. Pesanan saudara juga sih, buat obat. Di Islam, air zam-zam itu banyak khasiatnya. Nah apalagi kalau dibawa thawaf sambil mulut kita berdoa.

Pokoknya selama hampir lima tahun ini, Si Item tau apa aja yang saya lakuin. Dengan loyalitas tinggi, dia selalu ikut ke mana aja saya pergi. Makasih ya, Tem. It means a lot to me, muaaach!

Sekarang, itemnya si Item nggak segarang dulu. Pudar dimakan usia. Selain soal warna, doi masih prima banget! Resleting belum jebol atau macet. Kainnya nggak ada yang sobek. Ciamik bangetlah bodinya, kaya body yang p


Rabu, 22 Januari 2014

Hari Keempat Jadi Carep

Saya bersyukur banget kerja di majalah ini. Kita, para calon reporter (Carep) dikasih pelatihan dulu sebelum terjun meliput. Kaya masa orientasi gitu deh.

Nggak semua perusahaan media melakukan ini. Yang saya tahu majalah sana (ya, ya, yang saya susah move on dari ambisi jadi jurnalis di sana itu lho), juga membekali carep-carepnya di kelas belajar.

Setelah pembekalan selesai, carep bakalan ditandemkan dengan reporter untuk awal-awal penugasan. Tujuannya bagus, supaya bisa belajar dari yang senior tentang hal-hal praktis di lapangan. Enak kan, nggak langsung dilepas sendirian :D

Saya dan 10 carep lain adalah angkatan 2014. Di kelas belajar, kadang-kadang anak marketing juga masuk kelas untuk bahasan tertentu. Beberapa materi pembekalan memang bersifat umum tentang perusahaan.

Di media kita (cieeh kita, haha), ada sekat yang disebut garis api antara pemasaran dan pemberitaan. Jurnalis di sini dilarang nyambi cari iklan, bahkan cuma membantu penulisan advertorial juga nggak boleh. Marketing punya penulis iklan sendiri. Fotografer berita dan iklannya pun berbeda. Reporter cari narasumber untuk pemberitaan. Marketing cari klien buat masang iklan. Jelas batasannya.

Lagi-lagi bersyukur kerja di media yang udah 'ajeg' dari segi sistem maupun finansialnya. Beberapa wartawan (biasanya media lokal, beberapa doang mungkin) punya tugas ganda: wartawan merangkap sales iklan.

Lucunya, garis api itu tidak hanya berlaku dalam hal tugas, tapi juga penampilan, hihi.

Beneran deh, carep sama marketing itu 'cangkang luarnya' lumayan timpang!

Nggak usah bilang posisi kita pas perkenalan pun orang tahu mana carep, mana pemasaran. Yang marketing tentu lebih modis dan terawat :D

Yang carep? Nggak jauh dari kemeja (kadang kaos!), jeans dan kets.

Tapi dalam pergaulan sih nggak bersekat. Anak-anak marketing itu menyenangkan kok, nggak sok-sokan ekslusif. Bukan cuma mereka sih, semua orang di berbagai bidang dan posisi juga baik dan ramah. Beneran nih, bukan jilat-jilat atasan.

Buktinya, kemarin saya ikutan rapat kompartemen ekonomi. Sebenernya terpaksa 'diikutkan' biar tahu suasana penentuan berita-berita yang bakal digarap. Saya nggak sendiri. Bang Averos sama Vino G Bastian abal-abal juga kebagian ikut di sini. Carep yang lain dibagi-bagi ke kompartemen nasional dan hukum.

Suasana rapat itu egaliter banget! Semua orang bebas berpendapat tentang hal-hal yang menarik diangkat. Reporter boleh mengkritisi bahkan menolak usulan topik dari redaktur. Asalkan masuk akal dan sopan, itu fair. Bahkan para carep juga dimintai saran dan usulan oleh redaktur pelaksana. Padahal awalnya kita, eh saya doang, merasa udah kaya obat nyamuk. Cuma duduk manis dan mendengarkan. Jadi merasa tersanjung gitu pada 'ngeh' ada kita dan diajak terlibat diskusi :D

Selama rapat di kompartemen ekonomi, saya nggak mudeng banget isu-isu yang dibahas :p
Bukan tentang harga bawang naik jadi berapa. Bukan. Itu sih bisa baca di media online.

Koran dan online mengutamakan kesegaran atau aktualitas, sedangkan majalah memberikan kemendalaman. Emang beda jualannya dari online, koran, majalah, televisi dan radio. Masing-masing punya produk khas.

Emm, waktu ditanya usulan berita, saya jawab belum punya. Karena nggak mudeng tadi, hahaa. Saya udah baca-cara isu terhangat sih buat rapat kompartemen. Saya bikin catatan-catatan buat persiapan. Sayangnya, itu masuk ke nasional dan hukum.

Pait! Pait! Pait! Semoga nggak ditempatkan di Ekonomi. Amin... Eh khusus yang ini off the record aja ya jangan bilang-bilang ke orang. Sttt, diem-diem aja daripara dipecat, hahaha

Berita-berita apa yang akan dimunculkan untuk edisi minggu depan merupakan hasil rapat itu, bukan keputusan satu orang yang paling tinggi jabatannya.

Ah, tuh kan! Lagi-lagi bersyukur punya lingkungan kerja yang asyik banget :D

Oh ya, tulisan ini merupakan curhat saya di hari keempat masuk kelas belajar. Kesannya hepi-hepi gitu ya jalannya. Ya emang, orang masih kelas belajar. Nggak tahu deh kalau udah dikasih penugasan untuk meliput.

Denger-denger sih suasana sering tegang menjelang deadline terbit majalah. Terus redaktur kadang mendadak galak kalau materi liputan kurang atau gagal nembus narasumber.

Oh ya, saya udah bikin sidik jari buat masuk ruangan-ruangan di sana lho. Ada nomor induk karyawannya juga. Berarti udah sah kan ni jadi jurnalis di sana? Hahahaa, girang banget! Sama noraknya kaya pas lihat sebuah meja kerja kosong bertuliskan nama: Putri Kartika Utami.

Asli seneng banget. Ciyusan mi apa aja deh :D

Senin, 20 Januari 2014

Pilihan Hidup

Cihuy! Akhirnya obsesi jadi jurnalis kesampean \^o^/
Rasanya seneng banget bangeeeet! Jadi pekerja media itu teenage dream yang terwujud.

Cita-cita kok cuma jadi jurnalis?
Iya sih cuma jadi kuli tinta doang... tapi bodo amat! Selera orang kan beda-beda. Termasuk soal profesi. Menjadi pekerja pers bagi saya adalah pilihan hidup #eaaa

Saya memilih kuliah di jurnalistik juga karena tujuannya mau jadi wartawan. Bukan asal kuliah. Bukan karena paksaan orang tua. Bukan karena ikut-ikutan orang. Bukan karena peluang kerjanya semakin luas di era informasi ini. Kata hati yang menuntun. Ih sumpah kata-katanya jijay banget, haghagcuih :p

Alhamdulillah saya dilahirkan di keluarga yang demokratis. Ibu saya memberikan kebebasan kepada anak-anak perempuannya memilih jurusan yang kami minati untuk kuliah. Pada saat itu, jurusan saya dan dua saudara perempuan saya memang nggak lazim di lingkungan rumah.

Kakak saya, Teh Ian, mengambil jurusan peternakan. Saya kuliah di jurnalistik. Sedangkan Icha, si bungsu memilih pendidikan teknik mesin. FYI, di kelasnya Si Icha, perempuannya cuma dia doang. Bagaikan perawan di sarang penyamun kali ya? hehe

Sebenernya ibu saya berharap salah satu anak perempuannya ada yang bergelut di bidang medis. Jadi dokter, perawat atau bidan gitu, seperti pilihan kebanyakan anak perempuan di lingkungan rumah, haha. Tapi kami semua takut darah, jarum suntik dan pisau bedah. (>.<)

Beberapa orang bertanya kenapa saya kuliah di jurnalistik, "emang peluang kerjanya bagus ya?"

I just wanna be a journalist. It's about passion. Sok iye bangetlah? haha, tapi emang iya begitu sih kenyataannya :p

Waktu saya kelas 3 SMA, beberapa temen yang memilih jurusan di universitas berdasarkan peluang kerja. Angkatan saya banyak yang mengambil IT, ekonomi, sastra Inggris, dan pendidikan. Yang perempuan banyak banget yang memilih jadi bidan. Landasannya ya ketersediaan lowongan pekerjaan itu: banyak dibutuhkan.

Kata salah satu temen kelas saya yang berniat kuliah di kebidanan sih biar bisa buka praktek di rumah. Bukan karena memang minatnya di sana. Tapi satu doang lho yang bilang gitu, hehee. Pasti banyak yang pengen jadi bidan karena panggilan jiwa, bukan pertimbangan materi, ya kan? *daripada ditimpukin bidan*

Saya memang punya kecenderungan bersikap datar menanggapi sesuatu. Cuma bergairah untuk hal-hal yang saya minati. Waktu SMA, saya pilih kasih sama pelajaran. Pas mau naik kelas XI, nilai saya nggak memenuhi kriteria kelas IPA. Nilai fisika, matematika, dan kimia mengerikaaaaan. Bikin sedih deh pokoknya.

Saya pun masuk IPS. Saat itu, derajat IPS seolah-olah lebih rendah dari IPA. Kalah gengsi. Biasalah, darah muda darahnya para remaja. Saya pun sempet terpengaruh soal strata kelas. Karena stigma itu, saya hampir mau memaksakan masuk IPA--yang waktu itu saya anggap lebih keren, bermartabat dan bermasa depan cerah. Seolah-olah bakalan cemerlang gitu kehidupan di kemudian hari. 2014 ini apakah anggapan itu masih berlaku saat ini? I don't know. Waktu tahun 2005-2008 sih masih berlaku, at least at my school :D

Udah niat mau pindah. Mau ngobrol sama guru BP. Tapi ketemu sama trio kwek-kwek yang bikin nestapa selama 3 tahun? Si fisika, kimia sama matematika yang bikin mencret-mencret itu?

Bakalan keseret-seret. Bakalan jadi tukang nyontek. Bakalan menggantungkan nilai-nilai rapot saya pada kemurahan teman yang rela kasih contekan.

Waktu itu, ibu agak mendorong saya melobi guru biar bisa pindah kelas. Beberapa teman yang tadinya di IPS berhasil loncat ke IPA. Teteh saya malah bilang keluarga kita keluarga IPA. Masuk jurusan sosial itu ibarat merusak garis keturunan, hehee. Woooo lebay :p

Tapi kan saya yang belajar. Saya yang bakal mengabiskan seharian duduk di kelas mengikuti pelajaran. Saya yang bakal menderita bikin PR yang angka-angkanya lebih banyak dari huruf. Saya yang akan menjalani itu semua. Betapa mengerikan!

Saya meyakinkan diri kalau di masa depan mau jadi pekerja media. Masuk jurnalistik itu nggak harus dari IPA. Kepala saya lebih waras dari darah muda darahnya para remaja. Saya pun pasrah terdampar di XI IPS 3. Tapi sial banget di kelas IPS masih ketemu matematika. Satu lagi yang ngeselin: akuntansi!
Otak saya emang nggak support buat angka-angka, kecuali ngitung duit beneran. Bukan duit imajiner kaya di akuntansi :p

Saya berkomitmen bakalan tanggung jawab dengan pilihan saya. Implementasinya, saya enggak bakal mencontek, juga akan membuat pekerjaan rumah DI RUMAH, untuk bidang studi sosial. Matematika sama akuntansi mah pengecualian, hahaha. Dua pelajaran itu nggak seharusnya di IPS :p *tendangin kalkulator*

Awalnya jadi golongan murid IPS agak berat. Pas upacara agak gimana gitu ada di barisan dengan makhluk-makhluk itu. Agak minder, hahaa. Alhamdulillah perasaan yang tidak pada tempatnya itu nggak berlangsung lama. Nggak sampai sebulan. I'm on the right track!

Sewaktu kuliah, kecenderungan pilih kasih itu masih berlaku. Kalau mata kuliah yang kurang saya suka (metlit, statistik, ilmu alamiah dasar adalah beberapa contohnya), saya ikuti dengan standar asal lulus. Biarin pas-pasan juga.

Tapi kalau mata kuliah jurnalistik saya belajarnya lebih serius. Liat-liat juga sih dosennya siapa, hehehe. Buat mata kuliah yang menarik hati dan dosennya membuat saya merasa mendapat sesuatu yang nggak ada di buku, saya belajar serius. Bikin makalahnya dengan segenap hati. Terus kalau dapet nilai jelek itu nyeseknya nggak ilang. Bisa sampai 3x puasa 3x lebaran. Dapet B aja sakit hati dan kesel sama diri sendiri. Bukan soal nilai sih. Lebih pada kepuasan. Tapi nilai dari dosen juga salah satu indikator apakah pekerjaan kta bagus atau nggak. Selain itu, apalagi?
Tidak ada orang yang jenius di semua bidang. Ketika kamu tidak bisa melalukan sesuatu, selalu ada orang lain yang bisa melakukannya untukmu.
Sepertinya petuah itu saya aplikasikan dengan cara yang salah, ya itu tadi pilih kasih sama sesuatu yang disuka doang. Dan nggak berusaha bisa mengerjakan sesuatu yang nggak diminati dengan sungguh-sungguh. Seadanya. Sekedarnya. Kalau nggak bisa atau nggak suka, biarin aja orang lain yang garap. Fokus sama yang kita suka dan mau. Eh, salah kaprah ini, jangan diikutin :D

Oia, lulus kuliah saya bekerja di bidang yang jauuuuuh banget sama dunia pers. Nggak nyambung. Saya ambil kesempatan itu semata-mata karena materi. Lulus kuliah saya malu kalau masih nyusu sama orang tua soal isi kantong. Pekerjaan ini, gajinya oke, jadwal kerja fleksibel, nggak pake banyak target.

How lucky I am! Baru lulus sidang, belum wisuda udah dapet kerja. Kata orang-orang sih gitu. Alhamdulillah :)

Tapi nepotisme nggak sih saya dapet kerjaan itu karena rekomendasi orang dalam? Perasaan itu ganggu banget (>.<)

Ditambah, saya baca status Facebook Medina Kamil, presenter Jejak Petualang yang ketje. Doi merasa beruntung banget pekerjaannya adalah passionnya. Dia dibayar untuk mengerjakan sesuatu yang disukai. Ah sumpah, ngiri!

Saya kan mau jadi jurnalis. Setelah habis kontrak di pekerjaan lama, saya berniat kembali ke pilihan hidup semula: cita-cita waktu masih ABG.

Dan inilah saya sekarang: seorang calon reporter (carep) di sebuah majalah nasional. Cuma carep, belum reporter. Tapi saya bahagia karena telah kembali ke jalan yang benar, hehee. Bukan cuma Medina Kamil yang beruntung, saya juga! :D

Tanggal 20 Januari 2014 jadi hari pertama masuk kerja. Selama seminggu, saya dan 12 orang carep lain ikut kelas belajar di media tempat kami bekerja.

Hari pertama merupakan masa orientasi atau perkenalan. Kami diajak berkeliling ke semua ruangan, dikenalkan kepada semua karyawan di sana. Setelah itu ada penjelasan soal visi, misi serta hal-hal yang berhubungan dengan SDM.

Girang banget waktu liat meja kerja yang akan saya tempati, dengan komputer sendiri. Saya udah membayangkan bakal masang foto siapa aja di ruang kecil bersekat itu. Saya hias pake pernak-pernik lucu. Harus banyak cemilan juga biar cepet gendut. Tahun ini harus naek minimal 5 kg. Wajib! Resolusi rutin yang nggak pernah tercapai dari tahun 2005 adalah naik berat badan. Saya cengar-cengir sendiri liat meja kosong itu. Singgasana gue! Hahahaa :p

Kelas belajar ini akan berlangsung sampai Rabu depan. Besok materinya tentang keredaksian, kode etik dan manajemen peliputan. Pasti bakalan seseru tadi. O my God! O my God! O my God I'm so excited!

Kita lihat ya kebahagiaan ini bertahan berapa lama. Seminggu? Sebulan? Hihihii, soalnya sepuluh hari setelah hari ini, kelas belajar berakhir. Para carep bakalan diterjunkan untuk meliput, mengejar narasumber dan harus tembus, bermesraan dengan deadline daaaan segala kariweuhan lainnya. Pas nanti mengalami itu, saya masih betah atau muntah darah?

Ah, pokoknya besok bakalan seru!!!

Soal pilihan hidup, saya harus mengakui saya bangga sama Icha, si adik kandung. Dia mengikuti kata hatinya daripada kebutuhan isi dompetnya. Ketika teman-temannya yang juga lulusan pendidikan lebih memilih kerja di swasta, biasanya sebagai pegawai bank, Icha memilih mengajar. Doi bukannya nggak punya kesempatan itu. Dari lamaran iseng-iseng yang dia kirim lewat jobstreet, dia lolos tes masuk bank swasta terbesar di Indonesia.

Gaji guru honorer berapa sih? Kalau dibandingin sama pegawai bank mah kemungkinan cuma setengahnya. Icha sempat bimbang soalnya bank tersebut di Indonesia masuk the best lah. Selain itu, teman-temannya yang pernah mengajar di sekolah maupun tempat bimbel, malah banyak yang banting stir jadi pegawai bank.

Tapi orang tua kita selalu mengajarkan uang tidak harus selalu di urutan pertama. Munafik kalau bilang kita nggak suka punya duit banyak. Cuman ya, uang bukan prioritas dibalik setiap pilihan hidup kita. Beruntung banget punya Bapak dan Ibu seperti mereka.

Si Icha sempet bimbang, soalnya bank yang menerimanya tergolong yang terbesar dan terbaik di Indonesia. Saya sempet memengaruhinya untuk melewatkan kesempatan itu, "jadi guru aja, Cha."

Menjadi pegawai bank tentu bukan pekerjaan tidak terhormat. Malah bagus. Cuma saya sangat mengenal adik saya dan potensi-potensinya selama kuliah. Sayang banget kalau ilmu yang dia serap selama bertahun-tahun kuliah, berakhir di balik meja. Menghitung uang atau melayani nasabah yang ingin buka rekening. Tapi ya, saya terlahir di keluarga yang nggak terbiasa dengan intervensi orang yang lebih tua. Dia yang menjalani adalah yang berhak milih mau jadi apa. Dan Icha memilih jalannya. Menjadi pendidik.
Wow! Kakaks bangga padamu, Diks :p

Soal pilihan hidup ini, saya juga juga harus bilang saya bangga sam pilihan sahabat saya, Dini. Dia meninggalkan pekerjaan yang baru dia geluti selama beberapa bulan, demi mengejar Eropa. Padahal, waktu dia mutusin resign, dia belum punya pekerjaan cadangan. Nekat memang, tapi itu pilihannya.

Sekarang, si sarjana sastra Inggris ini bekerja di sebuah travel agent cukup besar. Gajinya pun lebih besar dari pekerjaan lamanya. Tapi lagi-lagi ini soal bukan materi. Uang yang banyak, ya anggap aja bonus. Dia mencari jalannya menuju Benua Biru. Sebagai karyawan, dia bilang dia punya punya kesempatan untuk liburan dengan tiket gratis dari kantor.

"Boleh ke Eropa lho, Ut!" Saya ikutan bersorak girang waktu dia sampaikan itu. U're on the right track, keep on going sist!

Karena saya nyebut Dini, daripada digebukin karena sirik-sirikan, mungkin saya juga harus memuji pilihan berani yang Inay ambil. Waktu itu Inay cuma karyawan pabrik yang beruntung, dia ditarik ke bagian office karena supervisornya tau Inay sedang kuliah juga sambil bekerja. Lucky her!

Saat posisi Inay sudah lebih baik di tempat kerja, seorang lelaki dari masa lalu tiba-tiba datang. Tanpa basa-basi, dia mengajak Inay menikah. Keseriusan sang lelaki ditunjukkan dengan mendatangi orang tua, nggak lama dari ajakannya sama Inay. Waaah! He's so ready :D

Inay setuju. Dia juga bersedia keluar dari pekerjaannya agar fokus mengurus keluarga. Waktu mengajukan pengunduran diri, Si Bos menawari kenaikkan gaji. Inay juga diiming-imingi diangkat jadi karyawan tetap dalam waktu yang lebih cepat dari prosedur pengangkatan normal. Lagi-lagi, ini bukan soal duit. Inay memilih fokus pada kuliah dan calon keluarga kecilnya. Dia resign. Salut! Nay, semoga dilancarkan pilihan hidupnya. So proud of your big choice! *peyuk, ketjup batsah*

Khususon buat Meonk (harus disebut juga biar nggak terjadi keretakan hubungan :p ), doi kini sedang berusaha 'kembali ke jalan yang benar'. Kalau bicara soal tempat kerja, beuh! yang ngiler pengen di posisi si Meonk pasti banyak. Kerja di kantor pemerintahan yang wilayahnya 'basah' gitu lho. Tapi saya percaya Meonk akan putar arah. Dia lagi nyari jalan keluar sekarang. Semoga nyasarnya nggak kelamaan ya, Menk. Gud luck!

Catatan ini panjang banget yak. Mood nulis lagi asik banget. Eh nggak juga sih, gara-garanya di kost-an baru no tv no lepi. Belum dibawa karena waktu dateng cuma bawa badan sama baju buat seminggu. Untungnya punya hp pintar jadi nggak mati gaya banget :D

Kamis, 12 Desember 2013

Dogmatis

Di negara kita, pengetahuan tentang agama sering disampaikan secara dogmatis. Bukan dengan cara-cara yang kritis. Kebanyakan dari kita "dipaksa" mempercayai sesuatu tanpa diberi alasan kenapa. Mungkin saya salah satunya?
Produk dogma bersedia membela mati-matian keyakinannya. Siap menentang habis-habisan pihak yang bersebarangan faham.
Ketika orang lain mempertanyakan alasan dibalik pendiriannya, mereka marah. Mengatai si penanya yang tidak-tidak, padahal bisa jadi dia sungguh-sungguh penasaran. Bukan untuk menjatuhkan.
Jangan-jangan mereka marah bukan karena pertanyaan itu tak pantas disampaikan? Tapi karena mereka terkejut menyadari tak tahu apa yang mereka bela mati-matian, juga apa yang mereka cela habis-habisan. Ah, semoga saya bukan salah satunya.
Mempunyai pendirian tentu tak salah. Punya alasan dibalik keyakinan tersebut tentu lebih baik.
Ibrahim menemukan tuhannya melalui pencarian. Bukan dari perintah ayahnya, yang bahkan tak mampu menjawab," Kenapa kita harus menyembah sesuatu yang kau ciptakan, Ayah?"
Manusia memang ciptaan tersempurna. Diberi nafsu untuk bertindak, dibekali akal untuk berpikir.
Ibrahim dan ayahnya sama-sama punya prinsip kebenaran. Mempunyai pendirian tentu tak salah. Punya alasan dibalik keyakinan tersebut tentu lebih baik.

Rabu, 11 Desember 2013

My First Interview : Outfit

Sebenarnya ini bukan wawancara kerja pertama saya. Sebelumnya saya pernah mengalami ini sewaktu freelance di Litbang Kompas, menggantikan posisi orang selama 3 bulan.  Waktu itu saya PD diterima karena direkomendasikan sama orang sebelumnya :D

Interview kedua sewaktu melamar untuk posisi Tenaga Pendamping pada suatu program bantuan pemerintah di dinas kabupaten. Waktu itu juga PD bakalan lolos karena memang tidak banyak yang melamar. Kenapa? Akses informasi terbatas. I think I did nepotism about access to information.

Wawancara yang ketiga ini, posisi saya bukan anak raja yang bisa lolos tanpa usaha. Saya mencari pekerjaan, mempersiapkan surat lamaran dan CV dengan serius, lalu mengirimkan lamaran. Tak ada orang yang saya kenal untuk merekomendasikan saya seperti pekerjaan sebelumnya. Mendapatkan pekerjaan ini harus pakai usaha.

Saya melamar lowongan pekerjaan untuk posisi jurnalis. Profesi yang saya minati dengan sepenuh hati. Kalau dibuat skala prioritas "The Most Wanted Job" versi Putri on the crot, akan saya urutkan seperti ini:
1. Jurnalis
2. Pemilik travel agent
3. Relawan di konservasi terumbu karang, orang utan, panda, penyu dll.

Tolong jangan ada yang protes kenapa posisi 'istri' atau 'ibu' tak nampak di daftar itu. Buat saya, menjadi istri dan ibu bukanlah suatu profesi, melainkan kewajiban mulia perempuan. Pekerjaan memberikan kita keleluasaan menentukan mau atau tidak, sedangkan kewajiban tak memberi pilihan itu. Eaaaah :D

Tuh kan melebar dari topik utama!

Karena ini pekerjaan idaman, saya mempersiakan kelengkapan persyaratan yang diminta dengan sungguh-sungguh. Termasuk soal busana. Semalam, saya ngobrol dengan teman yang "berpengalaman" dipanggil wawancara oleh perusahaan media.

"Pake celana bahan sama kemeja? Bajunya dimasukkin jangan? Hehe" Pertanyaan konyol itu saya lontarkan kepada Ka Dita, senior di kampus yang kini bekerja di Antara. Untung Ka Dita itu baik hati menjawab hal-hal nggak penting yang terlintas di benak saya.

"Ga punya sepatu pantofel, Ka. Adanya kets sama sepatu plastik. Owh, pake flat shoes aja. Oke, oke"

Tak puas dengan saran Ka Dita, saya bertanya pada Gita, teman seangkatan yang kini kerja di Tempo.

"Waktu gue interview sih ada cowok yang pake kaos, jeans sama sepatu kets. Tapi bagusnya formal aja, Put. Biar kesannya kita menghormati gitu"

Soal busana ini agak menjadi perhatian saya, selain kelengkapan persyaratan. Kakak kelas saya cerita kalau temannya pernah dikomentari terlalu klimis sewaktu diwawancara orang tv. " Temen aku pake blezer, kemeja dimasukin, sepatu kantoran.. Emang kamu tuh mau ngelamar ke bank ya formal begitu, gitu kata interviewernya"

No! No! No! Semoga saya tak mengalami itu.

Setelah bongkar-pasang beberapa kemeja ini-itu...

Saya akhirnya menentukan mau pakai apa untuk wawancara siang nanti. Dengan atasan kemeja bekas kakak yang warnanya baby pink, jilbab pink tua punya adik saya, celana bahan warna abu-abu bergaya santai dan sepatu plastik warna coklat! Baru sadar kalau saya nggak punya flat shoes. Adanya flat shoes plastik :p

Cerita grasak-grusuk berangkat, gerimis, nyasar sampai tiba di TKP saya skip yaa. Loncat ke cerita: Saya pun membuka pintu gedung tempat saya wawancara. Setelah menyampaikan maksud ke mbak-mbak di meja di resepsionis, saya diberikan formulir berlembar-lembar untuk diisi. Di lobi, saya melihat seorang gadis tengah mengisi formulir yang sama dengan punya saya. Sang kompetitor nih!

Sembari melambungkan senyum, saya duduk di kursi sebelahnya. Bukannya langsung mengisi, saya malah memperhatikan penampilanya. Berjilbab, kaos yang dilapisi blazer coklat muda, celana jeans, kets merah yang agak kotor, serta tas keril kira-kira seukuran 40L. Yang salah kostum saya apa dia ya?

Beberapa menit kemudian, datang gadis lain yang saya tebak punya maksud yang sama dengan saya. Dia menuju resepsionis dan kembali dengan formulir. Rambut ikal sebahu diikat, dress hitam dengan motif bunya kecil-kecil, skinny jeans dan wedges sekira 3 cm. Jiiiir! Mutlak saya yang salah tempat!

Seorang lelaki membuka pintu, lalu menuju resepsionis. Memakai kaos berkerah, celana jeans dan sepatu besar mirip sepatu gunung. Saya makin nestapa. Merasa satu-satunya calon pegawai bank di antara calon-calon jurnalis. Huwaaa!

Dan lelaki-lelaki lain dengan penampilan serupa berdatangan. Saya pun pengen nangis kejer! Tuhan, mengapa aku berbeda? :(

Eh, eh! Siapa itu?
Saya menangkap sosok lelaki kurus, berkacamata, memakai kemeja biru dongker motif garis horizontal, celana bahan, berkaus kaki dan pakai sepatu kantoran. Untung saja sepatunya nggak disemir sampai kinclong pake sunlight :p

Terimakasih, Tuhan... Engkau sungguh penyayang mengirimkan orang yang lebih rapi dari saya :D

Minggu, 24 November 2013

Rindu, Nama Rasa Kurang Ajar Itu

Napas saya mulai berat. Mata saya lebih berair dari biasanya. Siang bolong kali ini rasanya menyesakkan.
Bukan karena debu-debu yang berterbangan dan masuk ke mata. Bukan juga gegara polusi udara jahanam yang mengganggu pernapasan. Bukan itu. Dada saya yang sesak.

Hey, kata orang rindu selalu datang tiba-tiba.
Sial! Kali ini saya yang kena. Rasa itu menyerang, membuat sesak. Dalam hitungan detik mereka datang bergerombol sampai penuh. Berdesakan. Tanpa berkabar sebelumnya kalau dia akan mampir hari ini.
Gempuran tiba-tiba ini menyebalkan. Yang benar saja datang di siang bolong! Terlebih, sedang ada Ibu di sini. Saya benci terlihat cengeng di depannya.

Sebenarnya tak apa jika rindu ingin bertandang. Syaratnya cuma bilang. Biar bisa saya siapkan waktu dan tempat yang tepat untuk mencumbuinya.

Saya tidak punya daya untuk bertahan. Apalagi melawan. Saya biarkan rindu menggerayangi. Semau mereka saja. Upaya apapun untuk membendung sergapan mereka akan sia-sia. Hanya akan membuat sakit. Dan tentu semakin sesak.

Dari ekor mata, diam-diam saya perhatikan Ibu. Ah, saya tahu dia paham saya sedang dikontrol perasaan. Syukurlah,dia tidak mengusik saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan saya jawab dalam keadaan begini. Menginterupsi saya seperti sekarang akan membuat saya sebal. Dia sangat tahu kalau saya pasti bercerita ketika ketenangan sudah mengendalikan perasaan yang hiruk-pikuk.

"Kangen Bapak..."

Hanya itu yang terucap ketika saya berhasil merajai perasaan yang kacau-galau. Ibu diam saja. Dia seorang penerka yang hebat karena itu adalah respon terbaik yang saya inginkan. Saya tidak mau nasihat. Saya tidak mau pelukan. Saya tidak mau belaian di pundak, ataupun kepala. Itu akan membuat saya semakin tidak bisa mengontrol diri. Saya cuma mau dia tahu saya baik-baik saja.

Ah, jangan-jangan rasa itu juga menyergapnya setelah pengakuan barusan?
Kami berdua memilih diam. Tidak membiarkan tangis memecah bisingnya suara kendaraan kalau kami saling bercerita. Siang bolong ini saya mengizinkan rindu datang bertamu.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Move On di Tempat

Nyari pacar baru tapi yang apa-apanya mirip mantan itu judulnya move on di tempat. Ibarat kursi goyang nenek. Emang pindah sih gerak maju-mundur, tapi yaaa di situ-situ aja :)

Eh!

Selasa, 22 Oktober 2013

Suatu Malam di Rumah Sakit (2)

Emah, nenek saya masuk rumah sakit lagi. Dia meminta untuk dirawat di rumah sakit yang berbeda dari yang sebelumnya. Keinginan itu dituruti anak-anaknya karena Emah sedang mudah marah. Ganti dokter, ganti obat dan rumah sakitnya tidak lebih bagus. Tak apa yang penting Emah sehat.

Ketika masuk, bibi saya memesan kamar kelas 1. Sayangnya penuh, pun begitu dengan kelas 2. Terpaksa Emah menginap di kamar kelas 3 sampai ada pasien di kelas 1 yang keluar.

Seperti biasa, ibu kebagian jaga malam. Ya memang hanya ibu saya yang memungkinkan karena cuma beliau yang single fighter dan tidak punya anak kecil. Saya tentu saja harus menemani ibu. Misalnya dia tidak minta pun pasti saya ikut menginap untuk memastikan ibu makan dan cukup istirahat.

Mengingat pengalaman sebelumnya, Emah itu banyak maunya. Minta dipijat, dibalur balsem, dikipasi, ditabur bedak, diusap, kasur dinaikkan, dilap air hangat, minta susu de-el-el. Saya kasihan sama ibu, jadi mau saya bantu. Tapi yang terjadi keseringan saya tidur pulas :D
Manfaat keberadaan saya dipertanyakan selain sebagai ojek dan pengingat makannya ibu.

Tadi kami berangkat setelah magrib. Sesampainya di rumah sakit, saya dan ibu agak kaget mengetahui satu ruangan berisi 10 kasur! Kirain kelas 3 itu ditempati 4 pasien. Maklum sih ini kelas ekonomi. Sebenernya yang bikin kesel itu keadaan ruangan lebih mirip pasar daripada rumah sakit. Pasiennya satu, yang jaga se-RT.

Luas ruang untuk satu pasien sekira 2x3. Dikira-kira itu juga soalnya saya ga bawa meteran, hehe. Pokoknya sempit, hanya cukup kasur dan kursi lipat. Setiap ruang disekat dengan tirai. Jadi ya bunyi-bunyian dari kasur tetangga kedengaran.

Di depan terdengar suara Nike Ardila bernyanyi dari handphone, sengaja diloud speaker! Masih dari depan, terdengar tawa wanita yang ditahan-tahan agar tak terlalu keras. Di pojok dekat kamar mandi terdengar rumpi para lelaki yang tidak berusaha memelankan suaranya. Anak-anak berkeliaran. Teriakan dan tangisan mereka menambah "semarak" suasana.

Duh gusti, kok pada girang amat nginep di rumah sakit? Ini bukan tempat rekreasi keluarga kan ya?

Harus sering bilang permisi sambil tersenyum sungkan setiap mau ke kamar mandi atau keluar ruangan. Pasalnya para keluarga pasien "bergeletakan" di depan kamar mandi dan pintu keluar yang memang menyisakan ruang yang cukup buat tidur terlentang. Daripada tidur di jalan-jalan, saya mending begadang.

Malam ini sepertinya tidak akan bisa tidur. Sepertinya sih, tapi nggak jamin saya kuat melek semalaman. Soalnya di RS yang lama juga saya bilang bakalan susah merem tapi yang terjadi saya selalu berhasil bobok anggun di atas karpet yang keras :D

Sekitar jam 8 malam, pasien di samping kiri pulang. Kasurnya kosong. Waaak! Alhamdulillah, makasih ya Allah. Inikah kado buat anak sholehah yang berbakti pada orang tua? Tenang, tenang... anak sholehah yang dimaksud itu ibu, bukan saya.

Sudah jam 9 malam dan suasana hingar bingar mulai mereda. Pada cepat bobok yak semuanya biar besok nggak telat bangun pagi. Semoga cepat sembuh, Mah :)

Rabu, 02 Oktober 2013

Suatu Malam di Rumah Sakit

Kamar 212
Setelah menginap tiga hari di ICU, lalu dipindah ke HCU selama dua hari, akhirnya jam 11 tadi nenek saya bisa menempati kamar rawat inap biasa. Alhamdulillah, berarti keadaannya semakin membaik. Emah, begitu sebutan saya kepada nenek, masuk rumah sakit setelah darah tingginya naik sampai 270. Kata dokter itu angka yang sangat tinggi. Katanya lagi nenek saya kuat sekali karena biasanya tekanan darah setinggi itu bisa membuat pembuluh darah pecah sampai menyebabkan kematian.

Beliau menempati kamar nomor 212. Ketika melihat deretan nomer itu, pikiran saya tertuju pada sosok Wiro Sableng. Tokoh utama di film laga favorit saya sewaktu kecil, hehe. Rangkaian nomor 212 merupakan angka saktinya si murid Sinto Gendeng itu, semoga nenek saya juga semakin sakti melawan penyakitnya. Amin. (Apa hubungannya?!)
Sekarang nenek saya sedang diuap, mudah-mudahan besok penyakitnya ikut menguap keluar dari tubuhnya. Aamin. Get well soon, mah...

Minyak Angin Beda Generasi
Dibelikan yang aromatherapy, tetapi nenek saya protes. Maunya pakai minyak angin yang cap "alat perkakas". Tahu dong itu merk apa. Dari namanya saja sudah keliatan segmen pasarnya berbeda. Yang merknya pake bahasa Inggris membidik masyarakat modern. Sedangkan yang merk alat perkakas menjadikan nenek saya dan sebayanya sebagai konsumen.

Meskipun minyak angin modern menyuguhkan berbagai varian wangi, nenek saya setia dengan yang cap alat perkakas itu. Dia adalah komsumen dengan loyaloitas tinggi. Tak goyah oleh iklan-iklan minyak angin kekinian. Penasaran apa rahasianya, saya buka tutup minyak angin yang cap perkakas, lalu saya hirup baunya....
"Hmmm... Aromanya menggal banget setajam kapak! Hahaha"

Kalau mau jujur sih saya lebih suka wangi yang jadoel itu sih, tapi....
Tidak, tidak... saya adalah anak muda generasinya Agnes Monica. Saya pilih yang aromatherapy deh daripada dibilang berselera aki-nini :D

Melek Sendirian
Ih sumpah ya mati gaya banget malem ini di rumah sakit!

Bahas apa lagi ya? Nomor kamar sudah, minyak angin juga sudah. Duh! Ibu saya semakin terlelap, begitu pun nenek saya. Suasananya hening. Hanya sesekali terdengar langkah kali di luar kamar. Dugaan saya, mungkin itu suster yang sedang jaga malam. Tapi saya tidak memastikan kebenaran hal itu. Bukan karena takut lho ya, tiba-tiba pas saya melongok keluar, tahu-tahu susternya ngesot, bukan melangkah. Malas saja. Untuk apa nongkrongin orang yang lewat? ku-rang ker-ja-an *melambaikan tangan ke kamera*